Hari Jumat yang lalu, saya pulang cepat. Tiba-tiba handphone saya berbunyi. Sebut saja namanya Sophie (bukan nama sebenarnya), sahabat saya waktu kuliah di Perancis.
“Bonsoir, Sophie. Ça va?” (Hello Sophie, Everything is OK?).
“Je vais tres bien.” (I am doing very well.). Setelah berbasa basi, kemudian kami pun berdiskusi.
“Sophie, sebenarnya apa sih yang terjadi di Perancis. Kok kayaknya ekonomi susah, sampai ganti Perdana Menteri 4 kali, akhir akhir ini?”
“Pemerintah Perancis sedang kebingungan. Krisis financial di negara ini. Waktu COVID banyak sekali membantu perusahaan (agar tidak PHK) dan warga negara (agar tidak susah). Banyak membebani pemerintah. Saat COVID selesai, dikirain langsung meningkat pesat. Tapi kalah persaingan dengan negara-negara lain seperti Cina. Jadinya hutang makin besar. Hutang Perancis sudah lebih parah dari Yunani. Perusahaan stop merekrut, bahkan melakukan PHK. Situasi yang sama terjadi di Eropa seperti Jerman dan negara-negara lainnya.”. Wah kasihan juga ya.
**
Saya sebenarnya ingin menonton Netflix. Tetapi ternyata handhone berdering lagi, Ferry, keponakan saya. Setelah menanyakan kabar, dia juga bertanya,”Om, itu banyak banget tagar #kaburajadulu, apakah kita memang harus kabur aja dulu ya Om?”
“Kabur ke mana? Negara-negara lain pada susah!”. Dan saya menceritakan lagi diskusi saya dengan Sophie.
“Tapi kok, di beberapa sosmed, banyak yang kabur, terus bilang bahwa hidup di sana enak?”
Saya pun mengingatkan Ferry untuk berhati-hati. Di social media (namanya juga panjat social atau bercanda), banyak yang:
– Suka pamer liburan ke luar negeri (padahal bercanda dan bilang kabur aja dulu)
– Sudah tinggal di luar negeri, dan saat balik ke sana, bilangnya kaburajadulu
“Tapi Om, ada yang benar-benar dapat kerjaan baru di luar negeri kan?”
“Iya, tapi, sebagai apa dulu? Saat ini di luar negeri juga agak susah. Banyak yang akhirnya hanya menjadi pelayan restoran, atau pekerja kasar. Kamu mau, kuliah capek-capek lima tahun dan jadi pekerja kasar?”
“Tapi gajinya gede Om?”
“Iya, tapi biaya hidup memang besar juga. Ada yang saat bekerja di Jepang, hanya mempunyai kamar yang kecil sekali. Ada yang kerja di Belanda dan tinggal lantai paling atas (dekat tungku pemasak roti, yang panas), gak bisa tidur. Ada yang bekerja di Jerman, dan menjadi pelayan restoran dan harus menjual alcohol, padahal dia muslim yang taat.”
“Jadi , gak usah kerja ke luar negeri?”
“Enggak begitu juga. Tetap pergilah ke luar negeri kalau itu menambah kompetensi dan skills kita. Jangan asal pergi karena kabur. Saya juga dari seorang computer programmer bisa menjadi HR Director , karena saya menambah pengalaman, skills dan qualification saya dengan bekerja di 7 negara lain. Jadi perlu kadang pergi ke luar negeri, untuk melengkapi portfolio kita, membuat CV kita jlebih baik daripada yang lain. Jangan asal pergi. Dan kalau sudah mempunyai qualification yang bagus, bisa kembali ke negeri kita, dengan karier yang jauh lebih bagus, dan ikut membangun negara ini.”
“Tapi kan susah dapat pekerjaan yang bagus di luar negeri?”
“Makanya jangan asal KABUR! Di sana jadi jongos. Mau? Udah susah-susah kuliah lima tahun, di sana jadi jongos. Tingkatkan diri dulu, belajar, tambah skills, biar di sana dapat pekerjaan yang menambah portfolio dan meningkatkan qualification kita.”
“Terus , apa saja yang perlu kita pelajari?”
**
Saya sendiri pernah bekerja di 7 negara. Saya pernah mengembangkan talent-talent di beberapa negara. Sekarang anak-anak saya sendiri sedang bekerja atau kuliah di 3 benua yang berbeda. Berdasarkan pengamatan saya, hal-hal ini perlu ditingkatkan untuk berkarier di dunia global adalah:
HARUSKAH KITA JABUR AJA DULU ? Oleh : Pambudi Sunarsihanto
















