Tidak hanya itu, inovasi teknologi pirolisis multikondensor yang dikembangkan oleh BRIN juga diperkenalkan kepada para petani, yang mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak.
Teknologi ini tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga berpotensi menekan biaya operasional di sektor pertanian.
Kolaborasi dengan BRIN dan Perguruan Tinggi
Inovasi padi Biosalin ini tidak lepas dari dukungan intensif dari BRIN dan Universitas Diponegoro (Undip).
Kolaborasi ini bertujuan memperluas cakupan program ke wilayah pesisir lainnya, seperti Jepara dan Batang, sehingga dampak positif Biosalin bisa dirasakan lebih luas oleh petani pesisir di seluruh Jawa Tengah.
“Program padi Biosalin ini adalah langkah nyata dalam mewujudkan ketahanan pangan di wilayah pesisir yang selama ini terabaikan. Ini adalah bentuk solusi yang kami tawarkan untuk mengatasi perubahan iklim dan tantangan salinitas di lahan pertanian,” tambah Kepala Pusat Risat BRIN, Nugroho Adi Sasongko, PhD.
Menghadapi Tantangan Perubahan Iklim Global
Melalui program ini, Pemkot Semarang berharap dapat menciptakan model pertanian pesisir yang tangguh, mampu menghadapi perubahan iklim global, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Dengan dukungan riset, teknologi, dan kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan para petani, inovasi padi Biosalin diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang yang berdampak pada peningkatan ketahanan pangan nasional. (Adv) []
















