“Seperti saya ini, saya kan warga Palebon, saya ngambil tiga anak di SD Palebon. Apa yang perlu dibantu? ya semampunya orang tua asuh. Semisal seperti saya, bantu uang saku. entah itu Rp 100 ribu, Rp 150 ribu. Atau di masa pendaftaran, saya bantu buat beli seragam, beli tas sekolah,” bebernya.
“SOP di kami itu harus bisa mengasuh sampai lulus, jenjang tertentu. Semisal saya jadi orang tua asuh sejak kelas IV, maka harus sampai lulus kelas VI. Nanti kalau masih kategori kurang mampu, ya nanti dibantu sampai lulus SMP. Bantuannya semampu orang tua asuh,” sambung dia.
Ditambahkan Bambang, kondisi ekonomi sebuah keluarga tidak bisa dipastikan dari waktu ke waktu. Mungkin hari ini terbilang mampu, namun bisa saja keluarga tersebut mengalami degradasi finansial karena ragam faktor.
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dialami oleh seorang ayah atau kepala keluarga, akan sangat mempengaruhi kemampuan keluarga tersebut dalam membiayai pendidikan anak-anaknya. Atau hal lain seperti konflik orang tua yang berimbas pada perceraian.
“Karena yang namanya (data) siswa kurang mampu itu kan dinamis. Hari ini dia sejahtera, bapak ibunya lengkap, tapi besok kan tidak tahu ada kejadian apa, siapa tahu bapaknya ada masalah dengan ibunya, nah ini kan bisa menyebabkan anaknya terlantar,” bebernya.
Di sinilah Gerbang Harapan hadir untuk menjawab tantangan tersebut. Menjadi solusi bagi anak-anak untuk mendapat pendidikan yang layak. Termasuk menjangkau anak-anak yang mengalami putus sekolah.
“Kita ada aplikasi Bergerak Bersama Bantu Anak Putus Sekolah atau Bambu Apus, untuk mendata anak yang putus sekolah, kita link-kan juga dengan Gerbang Harapan,” pungkas Bambang. (Adv) []
















