Bekasi – Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ) melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak dengan tema “Kesejahteraan Psikologis Remaja” di SMP IT dan MA Plus IT Taruma Islamic School, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat yang terintegrasi dengan pembelajaran berbasis Outcome-Based Education (OBE) dan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), dibawah bimbingan Ibu Fathana Gina, M. Psi., Psikolog selaku Dosen Pembimbing Lapangan dan tim mahasiswa KKN yang terdiri dari : Muhammad Luthfi Wahyudi; Adillah Syntha Dewi; Afifah Qolbi Salimah; Citra Nabilah; Gene Meshani; Rafi Indra Satria; Adinda Khoirunisa Nur; Cicip Dimas Anugrah; Farah Syaufika; Gitta Surya Ningsih; Rahma Kurnia
-
Rancangan Program
Program ini dirancang sebagai respons terhadap berbagai tantangan psikologis yang kerap dialami remaja, seperti stres akademik, kesulitan mengelola emosi, rendahnya penerimaan diri, hingga munculnya perilaku perundungan di lingkungan sekolah.
Berdasarkan kajian psikologi perkembangan, masa remaja merupakan periode krusial yang membutuhkan pendampingan psikologis agar siswa mampu berkembang secara sehat, baik secara mental, sosial, maupun spiritual.
Selama lima minggu pelaksanaan, mahasiswa KKN menghadirkan rangkaian kegiatan psikoedukatif yang terstruktur dan interaktif. Lima tema utama yang diangkat meliputi mindfulness, anti-bullying, growth mindset, penerimaan diri (self-acceptance), dan regulasi emosi.
Setiap tema dikemas melalui workshop, diskusi kelompok, role play, refleksi diri, hingga latihan praktik sederhana yang mudah diterapkan dalam keseharian siswa.
Pada sesi mindfulness, siswa diajak mengenali pikiran dan emosi melalui latihan pernapasan sadar dan journaling reflektif untuk meningkatkan fokus serta ketenangan.
Sementara itu, pada program anti-bullying, siswa diberikan pemahaman mengenai dampak psikologis perundungan serta dilatih untuk menumbuhkan empati, keberanian bersikap, dan komitmen menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan suportif.
Program growth mindset mendorong siswa memandang tantangan dan kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai hambatan permanen.
Melalui storytelling, permainan edukatif, dan refleksi, siswa diajak menyadari bahwa kemampuan dapat berkembang dengan usaha dan strategi yang tepat.
Selain itu, sesi self-acceptance membantu siswa mengenali kelebihan dan kekurangan diri secara lebih sehat, sehingga mampu membangun rasa percaya diri dan harga diri positif.












