INFOPlus – Lawan kuat Prabowo – Gibran nanti dalam Pilpres 2029 adalah Pramono – Kang Dedi Mulyadi atau KDM. Popularitas dan ketokohan kedua politisi ini memang ramai dalam blantika politik nasional sampai hari ini.
Hal ini disampaikan Kelik Ismunanto, mantan pimpinan Partai Rakyat Demokratik (PRD) kepada media, Minggu (11/1).
“Wajar Prabowo – Gibran saat ini memang mendapat dukungan paling kuat dari elit politik. Namun Pramono Anung sebagai gubernur popular di Jakarta dan KDM sebagai gubernur paling populer di Jawa Barat,” beber Kelik Ismunanto.
Ia juga mengingatkan bahwa Pramono Anung juga salah satu figur kuat di PDIP yang mengusai Jawa Tengah.
“PDIP punya kepentingan menjaga kandang banteng di Jawa Tengah, selain Jawa Timur untuk bisa mempertahankan dan menjaga suara partai di DPR RI dan daerah,” ujarnya.
Sementara KDM yang sudah popular sejak menjadi Bupati Purwakarta semakin moncer selama menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat, saat ini menjadi kader pimpinan Partai Gerindra.
“Bergain politik KDM di Gerindra menjadi kuat karena partai tentu membutuhkan penambahan suara dalalm Pemilu 2029. Kalau toh harus menghadapi Prabowo – Gibran dirinya pasti akan menjadi bergain tersendiri dan menjadi rebutan partai-partai politik yang lain,” kata dia.
Saat ini, semua partai punya kepentingan memiliki calon presiden pada Pemilu 2029. Gerindra dan PDIP dan Golkar tetap sebagai partai penentu dan mempersiapkan diri dengan calonnya masing-masing.
Gerindra pasti tetap mencalonkan Prabowo untuk periode kedua. PDIP tidak punya calon kuat selain Pramono Anung. Sementara Golkar belum memiliki calon terkuat.
“Peta calon presiden seperti ini sangat menguntungkan bagi Pramono Anung dan Kang Dedi Mulyadi,” ujar Kelik Ismunanto.
Menurutnya, Gerindra dan Prabowo butuh berhitung keras untuk menghadapi potensi Pramono Anung dan Kang Dedi Mulyadi, dengan mempersiapkan strategi yang tepat.
Sementara Gibran yang didukung PSI, lanjut Kelik Ismunanto, perlu kerja keras untuk menempatkan diri kembali sejajar dengan kekuatan Prabowo dan Gerindra.
“Maklum saja walaupun Jokowi masih popular, namun berbeda kekuatan dukungannya saat sudah bukan sebagai presiden,” jalasnya.
Ditambahkan, Pram dan KDM akan menciptakan dinamika baru. Pram saat ini merupakan penyeimbang strategis. Sebab, Jakarta menjadi barometer politik nasional.
Untuk itu, dengan kesuksesan Pramono mengelola Jakarta, maka mengambil posisi sebagai penyeimbang atau alternatif perlawanan terhadap berbagai kebijakan pemerintahan Prabowo – Gibran yang tidak populer di kalangan daerah dan publik.
















