INFOPlus – Jakarta. Singapura tercatat masih mendapatkan gas dari Indonesia. Terungkap! rupanya, ekspor gas dari Indonesia ke Singapura akan berakhir pada tahun 2023 ini.
Hal itu diungkapkan oleh Gubernur Indonesia untuk OPEC 2015-2016, Widhyawan Prawiraatmaja. Ia bilang, kontrak ekspor gas Indonesia ke Singapura akan berakhir di tahun 2023 ini. Oleh sebab, itu, Widhyawan berharap Indonesia sudah mempersiapkan rencana tatkala kontrak berakhir di 2023, apakah kontraknya bisa diserap di dalam negeri atau akan tetap diekspor.
“Nah pada kondisi di mana kontrak itu selesai kan itu seharusnya sudah bisa diantisipasi di mana seharusnya itu sudah disiapkan penyerapannya. Kita tahu yang kita ekspor ke Singapura itu habis di tahun 2023 dari blok koridor kan,” jelas Widhyawan dalam program Energy Corner CNBC Indonesia, Selasa (1/8/2023).
Sebagaimana diketahui, saat ini ekspor gas dari Indonesia ke Singapura tersambung menggunakan infrastruktur pipa, bahkan hingga Malaysia. “Ini untuk justifikasi adanya infrastruktur biasanya produsen difasilitasi SKK Migas itu kecenderungannya adalah dengan kontrak,” paparnya.
Dia juga mengatakan jika penyerapan gas di domestik belum maksimal, maka ekspor gas ke Singapura masih bisa dilakukan. Hal itu lantaran aliran gas melalui pipa tidak bisa serta merta dihentikan.
“Kalau domestiknya tidak bisa menyerap begitu ya sementara Kementerian ESDM, SKK Migas menunggu sampai last minute untuk gas pipa yang dari Sumatera itu tetap dialirkan ke Singapura. Karena kan tidak mungkin gasnya disetop kan bukan seperti keran air, dia harus tetap dijalankan pada level yang tertentu,” tandasnya.
Di lain sisi, Sekretaris Jenderal DEN, Djoko Siswanto mengungkapkan bahwa infrastruktur yang mana menjadi salah satu faktor terserapnya gas untuk domestik belum terbangun secara terintegrasi di Indonesia. Dia mengatakan bahwa ketika infrastruktur untuk penyaluran gas belum terbentuk untuk mendistribusikan gas dalam negeri maka pasokan gas yang ada akan dialokasikan untuk ekspor.
“Jadi ketika infrastruktur belum siap untuk didistribusikan ke seluruh wilayah tanah air maka gas yang terproduksi di dalam negeri sisanya adalah langsung kita ekspor sedapat mungkin ya begitu,” jelasnya kepada CNBC Indonesia dalam program Energy Corner, Selasa (1/8/2023).
Adapun, Djoko mengatakan bahwa harga juga berpengaruh untuk penyerapan gas dalam negeri. Djoko mengatakan bahwa industri dalam negeri bisa mengkonsumsi gas domestik bila harga yang ditawarkan berkompetisi.
“Mengenai harga jadi beberapa industri dalam negeri yang sudah saat ini existing ada itu memang untuk penyerapannya tergantung sekali dengan harga. Nah nego harga kadang lama, sehingga penyerapan dalam negeri belum maksimal,” tambahnya.












