Saksi Akui Beri Uang untuk Tutup Kasusnya di Polda

oleh
Saksi Moh Hariyono dan Zaenal Arifin saat diperiksa di Pengadilan Tipikor Semarang.

Semarang – Sejumlah saksi mengungkapkan, memberi uang lebih selain uang pelicin seleksi Pilperades Gajah tahun 2021 kepada sejumlah Kades yang membawanya. Uang itu diberikan setelah ia dilantik dan kasus suap Pilperades kerja sama dengan UIN Walisongo Semarang itu terungkap dan ditangani penyidik Polda Jateng.

Hal itu terungkap pada sidang pemeriksaan perkara suap oleh Imam Jaswadi, Kades Cangkring dan Saroni, mantan Kanit Tipikor Polres Demak kepada Amin Farih dan Adib, dua dosen FISIP Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin 5/9/20220).

Saksi Zaenal Arifin, Kadus Sambungkrajan yang lolos dan dilantik mengungkapkan, atas penjaringan Pilperades ia ditawari Kades. “Saya dipanggil. Ada syaratnya harus membayar Rp 150 juta. Awalnya Kades minta Rp 300 juta. Akhirnya sepakat Rp 150 juta. Pertama Rp 80 juta yang kedua Rp 100 juta. Total Rp 180 juta. Diserahkan ke Kades di rumahnya,” kata saksi.

Moh Hariyono, Kadus Kempitan yang akhirnya dilantik mengaku, diminta membayar Rp 300 juta oleh Kades Sambung Siswahyudi.

Terhadap pemberian keduanya Rp 100 juta usai dilantik itu, saksi Zaenal menyebut diberikan ke Kades yang memintanya, agar penangan kasusnya berhenti. “Berjalannya waktu pernah pak Siswahyudi minta Rp 100 juta dengan alasan untuk menutup perkara yang sedang ditangani Direskrimsus. Katanya untuk pengkondisian. Pernah untuk pengkondisian,” kata saksi Zaenal yang masih memiliki hubungan kerabat dengan Kades Siswahyudi itu.

Senada saksi Moh Hariyono, Kadus Kempitan yang akhirnya dilantik mengaku, diminta membayar Rp 300 juta oleh Kades Sambung Siswahyudi. Ia tak tahu jika “uang pelicin” seleksi Pilperades yang harus dibayar untuk formasi lamarannya hanya Rp 150 juta. Hariyono mengaku telah menghabiskan Rp 212,5 juta.

“Awalnya dipanggil Pak Kades dengan syarat membayar kisaran Rp 300 juta. Akhirnya membayar pertama Rp 80 juta, kedua dimintai Rp 100 juta, ketiga 20 juta,” kata saksi, mantan driver honorer di DPRD Kudus itu.

Diakuinya, uang yang diserahkan itu merupakan hasil tabungannya sebesar Rp 105 juta daan menjual sawah Rp 95 juta. “Saat pelantikan setiap peserta sebelumnya juga dimintai Rp 12,5 juta untuk biaya snack dan konsumsi,” kata dia.

Keterangan itu juga diakui saksi Agus Suryanto, Kades Tambirejo. Selain memberi Rp 150 juta untuk suap agar calon titipannya lolos seleksi Pilperades 2021 Kecamatan Gajah Demak lewat Imam Jaswadi, Kades Cangkring dan Saroni, Agus juga mengakui memberi uang tambahan kepada keduanya. Ia memberi uang ke Imam Jaswadi terkait kasus Pilperades 2021 Gajah yang mencuat dan ditangani penyidik kepolisian dan menyebut agar kasusnya ditutup.

“Rp 50 juta itu uang sendiri. Rp 50 juta untuk pengkondisian di kepolisian. Waktu itu ditelepon pak Imam. Saya kasih Rp 40 juta. Beri lagi Rp 30 juta, beri lagi Rp 50 juta,” kata saksi tak menjelaskan rincian dan detail penggunaannya.

Senada diakui saksi Siswahyudi, Kades Sambung. Dalam keterangannya di Berita Acara Penyidikan (BAP), saksi Siswahyudi mengakui, meminta tambahan uang kepada dua peserta titipannya, Moh Hariono dan Zaenal Arifin masing-masing sebesar Rp 100 juta. Uang itu diakuinya untuk mengkondisikan kasusnya yang tengah ditangani penyidik Direskrimsus Polda Jateng.

“Katanya untuk pengkondisian. Uang saya serahkan ke Pak Imam Jaswadi lewat Alaudin (Kades Tanjunganyar),” kata Siswahyudi di persidangan.

Terdakwa Minta Saksi Ubah Keterangan

Terungkap pula, jika terdakwa Saroni disebut pernah menekan sejumlah Kades, saksi perkara dugaan suap Pilperades tahun 2021 Kecamatan Gajah Demak mengubah keterangannya. Saroni yang terlibat meminta para Kades membuat keterangan bohong di depan penyidik.

Saksi Agus Suryanto, Kades Tambirejo yang juga Wakil Paguyuban Kades se-Kecamatan Gajah mengaku, setelah pelaksanaan tes Pilperades dan kasusnya mencuat, mengaku pernah didatangi Saroni dan Imam Jaswadi, Kades Cangkring.

“Pak Roni mengatakan, kalau diperiksa jangan menyebut nama saya Saroni. Tapi nama Imam Jaswadi. Tapi saya tidak mau, karena faktanya Pak Saroni yang bicara dan aktif di kegiatan itu (Pilperades),” kata saksi Agus.

(rdi)