Diam-Diam, Kejari Semarang SP3 Penyidikan Korupsi CSR PTPN IX 2012

oleh -147 views
Kasie Intel Kejari Semarang Nur Winardi

Semarang – Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang, diam-diam menghentikan penyidikan kasus dugaan korupsi dana Corporate Social Responbility (CSR) pada PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX Semarang tahung 2012 pada KSP Sinergi Inti Artha (SIA). Penyidik dalam penyidikannya sebelumnya menetapkan Zaenal Arifin, Ketua KSP SIA sebagai tersangka. Status Zaenal sempat buron.

“Dihentikan berdasarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) Nomor Print 921/0.3.1/F.d.1/03.2017 tertanggal 7 Maret 2017. Penghentian dilakukan sebelum kami menjabat,” kata Kepala Kejari Semarang, Dwi Samudji melalui Kasie Intel Nur Winardi mengungkapkan, Senin (28/1/2019).

SP3 diketahui terbit di era Kajari Rizal Pahlevi dan Kasie Pidsus Adi Hardianto Wicaksono, sebelum dirinya dan Kasie Pidsus Tri Y menjabat pada 2018 lalu.

“Saya (Kasie Intel) dan Kasie Pidsus masuk Juni 2018. Kami belum mengetahui pasti alasan penghentiannya. Secara hukum, dihentikan karean tidak cukup bukti,” imbuhnya.

Nur Winardi mengaku, tahu adanya SP3 ketika belakangan ditanya wartawan terkait perkembangan penanganan penyidikannya. Bahkan awal dirinya menjabat, pihaknya sempat berupaya melakukan pencarian terhadap Zaenal karena buron.

“Kami sempat akan melakukan pencarian. Tapi ternyata sudah dihentikan,” imbuhnya.

Zaenal ditetapkan tersangka berdasarkan surat Nomor: PRINT-02/O.3.10/Fd.1/04/2016 tertanggal 27 April 2016 lalu. Tersangka dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

Sejumlah saksi telah diperiksa, termasuk audit perhitungan kerugian negara (PKN). Penyidikan dilakukan tanpa pemeriksaan tersangka Zaenal Arifin. Ia ditetapkan buron 2 Juni 2016 lalu.

Tak diketahui pasti alasan SP3 Kejari Semarang. Padahal penyidik sebelumnya menyatakan, penyidikan kasus Zaenal telah rampung dan memasuki pemberkasan. Berkas perkara tengah disusun kelengkapannya untuk kemudian dilimpahkan ke penuntut umum.

“Soal pembekasan penyidikan, sudah 90 persen sedang disusun. Sudah siap, tinggal penjilidan. Semua saksi sudah diperiksa semua. Termasuk audit PKN sudah selesai,” kata Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus, Adi H Wicaksono, akhir 2016 lalu.

Zaenal, Ketua KSP SIA berkantor di Jalan Kedungmundu Semarang itu diduga terlibat atas penyimpangan dana CSR sebesar Rp 1.250 miliar itu. Sebagai penyalur dana program simpan pinjam kepada 66 nasabah mitra binaanya penerima dana CSR, ia diduga menyimpangkan.

Dana CSR PTPN IX tahun 2012 sebesar Rp 1,250 miliar dikelola KSIA lewat 5 kordinator kelompok untuk sekitar 66 nasabah. Salah satu kordinator, Jeng Ratu, pemilik Kampung Jamu di Mijen Semarang. Dana CSR dikelola dalam bentuk simpan pinjam dengan perjanjian selama tiga tahun.

KSP SIA mendapat dana CSR dari PTPN IX sebesar Rp 1,250 miliar. Dana disalurkan kepada kordinator Koperasi Mitra Inti Kudus (KMIK) sebesar Rp 250 juta untuk 25 mitra binaanya. Lewat kordinator kelompok Sri Padiyatmi dengan jumlah penyaluran dana Rp 100 juta untuk 5 mitra binaanya.

Tak hanya KSIA, penyaluran dana yang diduga fiktif juga diketahui disalurkan lewat kordinator kelompok Koperasi Inti Muamalat (KIM) sebesar Rp 300 juta dan Kelompok Pudak Payung (KPP) sebesar Rp 90 juta.

Atas seluruh dana tersebut fiktif dan tidak disetorkan Zainal Arifin ke PTPN IX Persero Semarang. Dugaan korupsi juga diperkuat dengan diketahuinya dana program kemitraan untuk Kelompok Kampung Jamu (KKJ) milik Jeng Ratu yang seharusnya disalurkan Rp 500 juta hanya diberikan Rp 400juta. Namun atas kasus itu, Jeng Ratu belum ditetapkan tersangka.

(far)