Cerita Bersambnung (Cerbung) Bag 1
SENANDUNG STASIUN CINTA – VERSI KOMBINASI
Stasiun Gambir pagi itu sepi, kabut pagi menyelimuti setiap sudut hingga membuat bayangan menjadi samar. Maya menggenggam amplop putih yang sudah kusam, tubuhnya sedikit menggigil bukan karena dingin, tapi karena dia tahu dalam beberapa saat lagi suara itu akan terdengar. Sudah tiga tahun dia datang ke sini—rasa rindu pada Rafiq bercampur dengan rasa takut yang muncul setiap kali mendengar melodi dari arah rel terlupakan.
Maya masih ingat betul hari perpisahan itu. Rafiq berdiri dengan jas putihnya yang bersih, rambutnya tertiup angin, dan tangan yang selalu lembut menggenggam tangannya.
“Begitu selesai kuliah, aku akan kembali dengan membawa lagu yang kubuat untukmu,” ujarnya, matanya penuh janji. “Setiap kereta yang lewat dari arah Surabaya, itu seperti senandung yang mengantar kabarku padamu. Dan jika kau merasa sendirian, dengarkanlah suara dari rel yang tidak terpakai—kakakku akan menjagamu.”
Sebelum pergi, Rafiq memberikan sebuah kotak kayu yang terasa hangat di tangan. Di dalamnya ada foto Rafiq bersama seorang pria tampan dengan senyum ramah, sebuah kaset lama, dan surat singkat: “Kakakku adalah penyanyi terbaik yang pernah aku kenal. Dia dan kekasihnya pernah menunggu cinta di stasiun itu. Sekarang mereka akan menjaga cinta kita juga.”
Pada awalnya, Maya tidak mengerti maksudnya. Hingga malam hari ketika dia pulang dari stasiun, dia mendengar suara gitar yang lembut terdengar dari luar jendela kamar. Ketika dia membuka jendela, dia melihat dua sosok berdiri di rel yang sudah tidak digunakan selama lima tahun—seorang pria dengan gitar dan seorang wanita mengenakan gaun putih yang berbayang-bayang di tengah kegelapan. Maya langsung menutup jendela dengan gemetar, hati berdebar kencang.
Namun keesokan paginya, rasa takut itu bercampur dengan rasa rindu yang luar biasa. Dia kembali ke stasiun, dan tepat pukul 06.30, suara lagu yang Rafiq pernah mainkan untuknya saat mereka pertama kali jatuh cinta terdengar jelas dari arah rel terlupakan. Melodinya begitu romantis, penuh dengan kata-kata cinta yang belum pernah dia dengar sebelumnya.
Pak Slamet, petugas kebersihan yang akrab dengannya, melihat wajah Maya yang bercampur antara takut dan haru. “Itu adalah mas Anton dan nona Lina,” katanya dengan nada perlahan. “Sebelum kecelakaan menghalangi pernikahan mereka lima tahun lalu, mereka selalu bernyanyi di sana. Katanya mereka masih menunggu kesempatan untuk menyaksikan cinta yang sukses berkembang di tempat yang mereka cintai.”
















