Hari demi hari, Maya mulai terbiasa dengan suara itu. Kadang dia membawa buku catatan dan menulis surat untuk Rafiq sambil mendengarkan melodi romantis yang membuat hatinya hangat meskipun rasa takut masih menggangganya. Suatu malam, ketika hujan turun deras, dia melihat sosok kedua orang itu berdiri di luar teras rumahnya. Wanita itu dengan lembut mengangkat tangan, menunjukkan selembar kertas yang tertulis: “Jangan takut padaku. Aku hanya ingin membantu kamu menyampaikan cinta mu.”
Di kertas itu tertulis lirik lagu baru yang penuh dengan kerinduan Rafiq padanya. Maya menangis—rasa takut perlahan hilang digantikan oleh rasa syukur.
Beberapa bulan kemudian, seorang pria muda datang dengan gitar akustik, tubuhnya gemetar karena dingin. “Saya adalah teman Rafiq,” katanya. “Dia menyuruh saya memberitahu Anda bahwa dia akan segera kembali, tapi dia khawatir Anda sudah tidak menunggunya lagi.”
Maya menggeleng dan menunjukkan arah rel terlupakan. Saat itu juga, suara gitar dan biola terdengar dengan jelas, menyanyikan lagu yang Rafiq tulis untuk hari mereka akan bertemu lagi. Pria muda itu terkejut. “Itu lagu yang Rafiq ciptakan saat dia di rumah sakit. Dia bilang hanya orang spesial yang bisa mendengarnya.”
Di tengah suara musik yang romantis itu, sosok mas Anton dan nona Lina muncul dengan jelas di ujung rel. Wanita itu mengangkat tangan, menunjukkan cincin pernikahan yang bersinar di tengah kegelapan sebelum mereka menghilang bersama dengan iringan musik.
Hari ketika Rafiq kembali akhirnya tiba. Dia datang dengan menggunakan tongkat, tapi wajahnya bersinar ceria. Saat kereta berhenti, dia langsung melihat Maya yang berdiri di tengah rombongan orang yang sudah mengenalnya sebagai penyanyi dari stasiun cinta.
“Kau masih mendengarkan senandungnya?” tanya Rafiq dengan lembut saat mereka bertemu.
Maya mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Mereka selalu menyampaikan cinta mu padaku. Dan mereka bilang, cinta yang sejati tidak akan pernah terhalangi oleh apa pun.”
Di saat itu juga, suara gitar dan biola terdengar dari arah rel terlupakan. Lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu pernikahan mas Anton dan nona Lina yang belum sempat mereka nyanyikan. Di kejauhan, bisa dilihat kedua sosok itu berdiri dengan penuh kebahagiaan, mengenakan gaun pengantin dan jas yang indah, sebelum perlahan menghilang bersama dengan janji bahwa mereka akan selalu menjaga cinta di stasiun itu.
Rafiq kemudian mengangkat tangan Maya dan berkata, “Kita akan menikah di sini. Di tempat yang menyaksikan cinta mereka dan cinta kita. Biarkan senandung mereka menjadi iringan pernikahan kita.”
















