Cerbung GM.Riyadi: SENANDUNG STASIUN CINTA – EPISODE 3:
HANGATNYA PERON DI TENGAH BADAI
Matahari mulai menyembunyikan diri di balik gedung-gedung tinggi ketika Maya masuk ke ruang tamu rumahnya yang megah. Orang tuanya sudah menunggu dengan wajah serius yang tak bisa disembunyikan.
“Maya, kita sudah bicara tentang Rafiq,” ucap Ibunya dengan nada tegas, sambil menyusun kertas dokumen di atas meja marmer. “Kamu anak konglomerat, dia hanya dari keluarga yang pas-pasan. Tidak mungkin kalian bisa bersama.”
Ayahnya menambahkan, “Kita sudah menyiapkan calon suami yang cocok untukmu – orang yang bisa membantu perkembangan bisnis keluarga.”
Maya menggenggam erat foto kecil yang selalu ada di dompetnya – gambar dirinya dan Rafiq yang sedang tertawa di peron stasiun. “Tapi Papa, Mama, cinta bukan tentang uang atau status. Rafiq adalah orang yang benar-benar mengerti saya!” ucapnya dengan suara gemetar tapi tegas.
Di sisi lain kota, Rafiq sedang mengepal mesin sepeda motor di bengkel kecil milik ayahnya. Keringat menetes di dahinya, tapi pikirannya penuh dengan wajah Maya. Dia melihat jam tangan yang diberikan padanya saat ulang tahun – kado pertama dari Maya yang selalu dia jaga dengan baik. Di tembok belakang bengkel, poster jadwal kereta api yang sudah agak pudar menjadi saksi betapa sering dia menghabiskan waktu untuk pergi ke stasiun itu.
Malam menjelang, Maya menyelinap keluar rumah dan langsung pergi ke stasiun yang sudah menjadi tempat pertemuan mereka. Ketika dia tiba di peron, Rafiq sudah menunggunya dengan wajah khawatir.
“Rafiq…” panggil Maya dengan suara meratap, air matanya mulai menetes. Rafiq segera menghampirinya, membungkusnya dengan pelukan hangat.
“Sudah dengar apa yang orang tuamu katakan, kan?” ucap Rafiq dengan lembut, menyeka air mata Maya dengan ujung bajunya. Lampu stasiun yang berwarna kuning menerangi mereka di tengah peron yang sunyi, hanya diiringi suara kereta api yang melintas di jalur sebelahnya.
Maya mengangguk, “Mereka tidak mau mengerti. Mereka hanya melihat status keluarga kita.”
Keduanya lalu duduk di bangku yang sudah jadi tempat favorit mereka. Rafiq mengambil dua gelas teh hangat dari plastik kantong – dari warung kecil dekat stasiun yang selalu mereka kunjungi. “Aku tahu ini tidak mudah,” ucap Rafiq sambil memberikan gelas teh ke Maya. “Tapi ingat, di stasiun ini kita menemukan ketenangan. Cinta kita bukan tentang apa yang punya kita, melainkan bagaimana kita saling menguatkan.”
Dia kemudian mengangkat tangan Maya dan mencium pelan punggung tangannya. “Aku akan bekerja keras, Maya. Tidak untuk mengejar kekayaan, tapi untuk membuktikan bahwa aku bisa menjagamu dengan baik. Stasiun ini adalah saksi cinta kita, dan aku tidak akan pernah menyerah padanya.”
















