Semarang – INFOPlus. Puluhan caddy golf demo memprotes pemutusan kemitraan yang dilakukan pengelola Semarang Royale Golf (SRG). Pengelola dinilai tidak berhak mengusir mereka dari SRG mengingat lahan milik Pemkot Semarang.
Sekitar 50 caddy golf yang biasa mengais rezeki di Semarang Royale Golf, dulu bernama Gombel Golf, menggelar aksi damai di jalan masuk menuju area golf, kawasan Gombel Lama, Kecamatan Banyumanik, Semarang, Sabtu, (27/5). Mereka berdemo, memprotes kebijakan pengelola SRG, PT Ardina Prima, yang memutus kemitraan 18 pramugolf.
Koordinator Paguyuban Caddy SRG, Alex menuturkan caddy yang biasa melayani pegolf di SRG mayoritas berasal dari Semarang Candi Golf. Mereka bedol desa, pindah ke SRG seiring adanya kebijakan ruislag lahan oleh Pemkot Semarang, selaku pemilik lahan.
sejak 2006
“Kami ini bukan pegawai atau pekerja dari pengelola SRG. Selama kerja di sini, sejak 2006 kami juga tidak pernah mendapat gaji dari pengelola SRG. Kami dapat bayaran, tips dari pegolf. Jadi kami tidak bisa dipecat sama perusahaan itu. Yang bisa mecat kami itu Pemkot Semarang, karena memang yang membawa kami ke sini adalah pemkot,” beber Alex, di sela aksi.
Agustiman, 58 tahun, salah satu caddy yang didepak dari SRG menceritakan ia dan 17 rekannya belum lama ini mendapat surat dari PT Ardina Prima. Inti dari surat itu menyebutkan pemutusan kemitraan sebagai caddy. Alasannya ke-18 caddy dinilai sudah uzur.
“Bahwa per 1 Juni kami sudah tidak diperbolehkan aktivitas di SRG karena masalah usia, lebih dari 58 tahun. Kemudian kami bertemu dengan mereka dan dijanjikan mendapat tali asih sebesar Rp 2,8 juta,” ucap dia.
Bagi warga Karangpanas, Kecamatan Candisari tersebut, pemutusan kemitraan sama saja dengan memutus mata pencaharian mereka. Penawaran tali asih juga dirasa tidak sebanding dengan hasil keringat sebagai caddy selama ini.
“Intinya kami menolak kebijakan pengelola dan tetap minta bisa menjadi caddy di sini. Bukan masalah tali asih tapi kami minta tetap bisa bekerja sampai kami benar-benar sudah tidak mampu lagi. Dan kami masih mampu bekerja meski sudah 58 tahun.” tegas dia.
Ekwan Priyanto, perwakilan dari PT Ardina Prima menuturkan pemutusan kemitraan sejumlah pramugolf semata dalam rangka pengembangan bisnis SRG.
Selain tali asih, pihaknya juga tidak melarang kehadiran para caddy yang sudah diputus kemitraan ke SRG. Selama ada permintaan pribadi dari customer atau pegolf, ia mempersilakan para caddy beraktivitas.
“Dan yang lebih luar biasa, kami menawarkan kepada 18 caddy tersebut, jika ada anak atau keluarganya yang lain berminat jadi caddy menggantikan ayahnya. Atau jika anaknya berminat jadi karyawan di sini, kami prioritaskan untuk bisa diterima sesuai kebutuhan perusahaan,” katanya.














