UNGARAN – Sebanyak 100 pengrajin batik yang tergabung dalam Asosiasi Profesi Batik Tenun Nusantara (APBTN) Bhuana Jawa Tengah mengalami krisis semenjak pandemi Covid-19 melanda Indonesia.
Wakil Ketua APBTN Bhuana Jawa Tengah, Abdul Kholiq Fauzi, mengatakan, kondisi para pengrajin mengalami krisis sudah terasa semenjak bulan Maret di awal musim pandemi Covid-19 hingga bulan September.
“Omzet menurun drastis, penghasilan terjun bebas sehingga berbagai cara sudah ditempuh oleh para pengrajin untuk bisa bertahan hidup di tengah pandemi sekarang ini,” katanya, Minggu (4/10).
Fauzi yang juga pemilik Batik Gemawang menjelaskan, banyak perajin yang bertahan hidup dengan cara menjual stok yang ada hingga berwirausaha dengan menjual di luar produk batik.
“Banyak yang mengurangi produksi hingga mengurangi karyawan agar pengrajin bisa tetap eksis di masa pandemi ini,” kata Fauzi.
Namun demikian, kata Fauzi, dengan datangnya momentum Hari Batik Nasional, sepertinya tak ingin dilewatkan pengrajin batik di Ungaran, Kabupaten Semarang di tengah pandemi Covid-19 saat ini untuk menggenjot penjualan.
saat ini, upaya yang dilakukan Fauzi dengan produk batiknya untuk mendongkrak penjualan adalah dengan memberikan diskon khusus untuk batik tulis.
“Batik Gemawang memang dikenal dengan batik tulis. Jadi, di hari Batik Nasional kami ingin menarik pelanggan lama dengan memberikan diskon 20% khusus batik tulis,” kata Fauzi.
Tak hanya batik tulis yang mendapatkan diskon. Batik nontulis pun ia bandrol harga miring dengan diskon 10%.
Langkah ini diakuinya sebagai upaya menghidupkan kembali usaha mereka yang sempat ‘mati suri’ selama enam bulan karena pandemi Covid-19. Serta, membiarkan 19 pekerjanya kembali berinovasi dengan karya yang baru.
“Saat enam bulan kemarin omzet yang hilang hampir 90%. Tapi, sejak akhir September hingga awal Oktober ini bisa mulai bernapas,” ujarnya.(gar)














