Semarang (Infoplus) Sebuah rumah bekas bengkel di Palebon RT 1 RW 11, Pedurungan, Kota Semarang dikerumuni warga dan didatangi polisi. Terdapat 11 kepala keluarga yang tinggal di dalamnya.
Dari luar, rumah itu cukup luas namun tertutup pintu lipat sehingga sama sekali tidak tahu kegiatan di dalamnya. Dari penyelidikan sementara laki-laki yang ada di rumah itu akan memakai sarung saat kegiatan dan bagi wanita memakai kain jarik. Pada malam hari mereka tidak menyalakan lampu, tapi menggunakan lampu minyak.
“Petugas datang ke lokasi dan mengecek kondisi. Ternyata di dalamnya ada 43 orang dari 11 kepala keluarga. Mereka melakukan meditasi. Diduga mereka mengikuti aliran sesat,” kata Kapolsek Pedurungan, Kompol Mulyadi, kemarin.
Rumah tersebut cukup luas dan bisa menampung banyak orang. Di dalam rumah, para keluarga yang datang ke sana rela meninggalkan rutinitas sehari-hari termasuk pekerjaan.
Situasi mulai ramai setelah ada desersi angkatan laut yang dijemput anggota TNI dari rumah tersebut. Kasusnya diungkap, Rabu (14/2) lalu.
Tidak hanya orang dewasa, bahkan anak-anak dan bayi pun ada. Sejumlah orang kemudian dimintai keterangan termasuk pemilik rumah yaitu Rondiono alias Andi yang dibawa ke Mapolsek Pedurungan.
“Sekitar 3 bulan aktivitasnya tertutup, kita juga bertanya-tanya,” kata ketua RT setempat, Syafii.
Salah seorang penghuni, Afifudin (30) mengatakan ia rela meninggalkan profesinya jual beli mobil dan datang ke rumah milik Rondiono alias Andi yang masih kerabatnya itu untuk mencari ketenangan.
“Di dalam sama kayak kehidupan biasanya, makan, tidur. Tapi memang tidak beraktivitas kerja, pintu tertutup. Intinya menenangkan diri, meninggalkan harta, tahta, wanita,” kata Afif di lokasi.
Rumah yang dulunya bengkel tersebut memang cukup luas dengan pintu lipat yang bisa menutup seluruh bangunan dari depan. Sudah 3 bulan rumah tersebut makin tertutup dan tidak ada kegiatan perbengkelan sama sekali.
Afif bercerita untuk logistik, warga yang masuk dan ikut bergabung membawa bekal sendiri untuk persiapan “mencari ketenangan” itu. Ia mengaku tidak ada ajaran apapun di dalam.
Sementara Andi, pemilik rumah yang digunakan untuk meditasi, mengaku memang menutup aktivitasnya dari dunia luar. Andi dan 11 KK mengaku meninggalkan hal duniawi untuk mencari ketenangan.
Andi mengatakan kegiatannya baru sangat tertutup sekitar 3 bulan dengan target minimal 1 tahun tidak bersinggungan dengan dunia luar sama sekali. Andi berkilah tidak menganjurkan anak-anak untuk tidak bersekolah. Kenyataannya 43 orang yang ada di sana melepas kegiatan sehari-harinya, yaitu pria tidak bekerja dan anak-anak tidak sekolah.














