Dari belasan KK itu, ada seorang anggota angkatan laut dari Surabaya yang desersi dan membawa keluarganya untuk ikut meditasi di sana. Menurut Andi, ia dan anggota angkatan laut berpangkat Letkol itu sudah kenal sekitar 2 tahun dan sepakat untuk kumpul bersama.
“Sudah 2 tahun sering main-main ke sini kalau libur. Kita dari awal sering ngobrol sampai akhirnya ada ide kumpul bareng,” aku Andi.
Anggota TNI itu turut dijemput Pomal Lantamal V Surabaya dibantu Sabhara Polrestabes Semarang. Tim yang menjemput sempat terpaksa memanjat tembok tinggi karena rumah sangat tertutup.
Bagi orang yang ingin bergabung, lanjut Andi, diminta membawa makanan dan bahan makanan sendiri. Rencananya orang-orang di sana akan “meditasi” menjauhi dunia luar minimal setahun.
“Kita hidup tanpa elektronik, tanpa kimia. Tapi saya tidak mengajarkan apa-apa,” kilahnya.
Ia juga mengaku membebaskan kelompoknya dalam beribadah, namun pada kenyataannya Andi dan warga yang ber-KTP Islam di sana tidak beribadah ke Masjid, padahal lokasi rumah persis berhadapan dengan Masjid.
Terkait kegiatan malam hari yang hanya menggunakan lampu minyak kemudian laki-laki menggunakan sarung dan wanita menggunakan kain jarik, Andi berkilah dirinya tidak mematok aturan itu. edi














