RSUD Tugurejo Segera Operasikan Mammografi untuk Optimalkan Deteksi Dini Kanker Payudara

oleh

Semarang – Menderita kanker bukan berarti divonis mati. Sebab, dengan diketahui sejak dini dan ditangani dengan benar, kanker bisa disembuhkan.

Ketua Promosi Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS) Tugurejo Semarang dr Rully Dwi Utami SpRad mengungkapkan, imaje vonis kanker sama dengan vonis mati membuat masyarakat takut.

Mereka enggan memeriksakan diri saat ditemui adanya benjolan tak normal di tubuhnya. Padahal, selama tidak diperiksakan, penyakit akan terus menyebar dan memburuk.

“Akibatnya, pasien datang ke rumah sakit sudah pada stadium lanjut. Sehingga penanganannya pun lebih sulit dibandingkan jika datang saat awal,” terangnya, saat memberikan penyuluhan dalam rangka Peringatan Hari Kanker Sedunia, di selasar Poli Rawat Jalan RSUD Tugurejo Semarang, Rabu (13/2/2019).

Diakuinya, khususnya kanker payudara menjadi penyebab kematian terbanyak kedua di dunia, yakni mencapai 38 per 100.000 perempuan. Namun, perkembangan dari tahun ke tahun, angka kematian dibandingkan temuan pasien semakin sedikit.

Artinya, ada kecenderungan masyarakat lebih peduli dengan melakukan skrining saat menjumpai benjolan yang dicurigai sebagai tumor atau kanker, terutama pada mereka yang memiliki faktor risiko.

INFO lain :  Notaris Semarang Pemberi Uang Terus Diperiksa atas Sidang Dugaan Pungli di BPN Kota Semarang

Faktor Risiko Kanker Payudara

Faktor risiko kanker payudara, antara lain menstruasi pertama kurang dari 12 tahun, menopause melebihi 50 tahun, belum pernah melahirkan, tidak pernah menyusui. Faktor lain melahirkan anak pertama pada usia lebih dari 35 tahun, memiliki riwayat penyakit tumor jinak, radiasi di dada, maupun penyakit kanker pada anggota keluarga lain, serta perokok aktif atau pasif.

Rully menambahkan, deteksi dini pada kanker payudara yang termudah, dengan pemeriksaan payudara sendiri (sadari). Cara ini dilakukan pada tujuh sampai 10 hari setelah menstruasi, mengingat menjelang dan beberapa saat setelah menstruasi, ada pembengkakan pada kelenjar susu.

“Pertama, dengan menghadap ke kaca, amati payudara yang telanjang saat tangan diangkat ke atas. Lihat pergerakannya, apa ada yang tidak simetris. Kedua, turunkan tangan dan kuatkan, perhatikan puting, kulit di sekitar payudara, apakah ada perubahan dan bagaimana pergerakannya,” terangnya.

INFO lain :  Dirlantas Polda Jateng Mudahkan Masyarakat Sampaikan Informasi Kelalulintasan Lewat Road Road Safety Smart City

Langkah ketiga, pencet puting, perhatikan apakah ada cairan yang keluar, baik darah atau cairan putih. Lakukan perabaan dengan tiga jari secara mengitari seluruh payudara ke arah luar, hingga ketiak.

Rasakan kemungkinan adanya benjolan yang mencurigakan. Waspadai jika puting berubah melesak ke dalam, kulit di sekitar payudara berwarna kemerahan atau berpori besar, cekung seperti lesung pipi, tebal dan bersisik.

“Deteksi dini bisa juga dilakukan dengan pemeriksaan payudara klinis (sadarnis), USG payudara, mammografi. Untuk pemeriksaan mammografi, dianjurkan pada wanita usia lebih dari 40 tahun, karena pada usia kurang dari 40 tahun, jaringan payudara masih padat, sehingga bisa mengaburkan hasil,” beber Rully.

Ditambahkan, mammografi memiliki kepekaan tinggi karena dapat mendeteksi mikrokalsifikasi hingga ukuran urang dari 100 mikrometer. Alat ini juga dapat memperlihatkan lesi sebelum dapat teraba dengan sadarnis, bahkan bisa diketahui sekitar satu sampai dua tahun sebelum teraba dengan sadari.

INFO lain :  Per Hari Ada 1.000 Aduan Soal Bansos

Hingga saat ini, katanya, RSUD Tugurejo masih merujuk pasien yang hendak di mammografi ke RSUP Dr Kariadi Semarang. Namun, dalam waktu dekat, rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah itu akan memberikan layanan mammografi sendiri.

“Prosesnya, masih menunggu penyelesaian perizinan, serta penentuan biaya atau tarif untuk mendapatkan layanan itu. Yang jelas, mammografi yang kami miliki lebih baru, menggunakan teknologi digital sehingga bisa menghasilkan irisan lebih kecil, serta meminimalkan nyeri karena ada sensor tekanan pada alat itu. Kami juga menjamin privacy karena hanya dilakukan oleh petugas perempuan,” ujar Rully.

Dia berharap, jika nanti alat tersebut dioperasionalkan, akan semakin banyak masyarakat yang memeriksakan dirinya. Khususnya, pada mereka yang berisiko tinggi, termasuk pengguna alat kontrasepsi hormonal.

Ketua Paguyuban Kemoterapi RSUD Tugurejo Astri Kriswulan menyambut baik rencana dioperasikannya mammografi milik rumah sakit tersebut. Sebab, akan mempermudah pasien dalam menjalani pemeriksaan kanker, terutama payudara.

(dit/jatengprov.go.id)