Ia memaparkan, pesantrennya telah mengembangkan berbagai unit usaha dan program ketahanan pangan, mulai dari greenhouse, budidaya sayuran, peternakan ayam, kolam ikan, hingga pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Program tersebut menjadi sarana pembelajaran sekaligus membentuk santri yang mandiri secara ekonomi.
“Kami ingin santri tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga terbiasa berpikir maju dalam bidang ekonomi. Ketika kembali ke masyarakat, mereka mampu menjadi penggerak ekonomi umat,” jelasnya
Melalui OASE 2026, BI Jawa Tengah bersama pemerintah dan pondok pesantren berharap lahir generasi muda yang tidak hanya unggul dalam ilmu keislaman, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan, mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta menjadi motor pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang inklusif dan berkelanjutan. (Kar/Ts)















