SEMARANG,INFOPlus – Komitmen melindungi petani kembali ditegaskan Perum Bulog dengan memastikan gabah terdampak banjir tetap diserap. Langkah ini diambil agar petani tidak mengalami kerugian berlipat akibat bencana dan anjloknya harga panen.
Direktur Pengadaan Bulog, Prihasto, menyatakan bahwa negara tidak boleh abai ketika petani menghadapi situasi darurat, terutama saat memasuki masa panen. Menurutnya, sesuai arahan pemerintah, gabah dari lahan yang sudah cukup umur panen akan tetap dibeli meski kualitasnya menurun akibat banjir.
“Kami ingin memastikan petani tetap mendapatkan kepastian harga. Jangan sampai sudah terdampak banjir, hasil panennya juga tidak terserap,” tutur Prihasto usai rapat koordinasi di Kantor Perum Bulog Jawa Tengah, Jumat (27/2). Salah satu daerah pertanian yang berdampak akibat bencana banjir terjadi Grobogan.
Secara nasional, dampak banjir terhadap produksi gabah dinilai sangat kecil. Dari estimasi produksi sekitar 3 juta ton pada 2025, hanya sebagian kecil yang mengalami kerusakan berat karena terendam terlalu lama. Namun demikian, Bulog tetap menyiapkan langkah antisipasi agar perlindungan terhadap petani berjalan optimal.
Di lapangan, tantangan utama adalah kadar air yang tinggi serta adanya lumpur dan jerami yang terbawa saat panen. Kondisi ini membuat proses pengeringan dan penggilingan menjadi lebih sulit, bahkan berpotensi merusak mesin.
Untuk mengatasi hal tersebut, Bulog menggandeng dinas pertanian daerah agar penyerapan tepat sasaran. Petani juga diimbau melakukan pembersihan dan penjemuran awal sebelum gabah dibawa ke penggilingan, sehingga tetap memenuhi standar pembelian sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Tahun ini, Bulog menargetkan penyerapan hingga 4 juta ton gabah sebagai bagian dari penguatan cadangan pangan nasional sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat petani. Kebijakan ini menjadi bukti bahwa di tengah bencana, pemerintah tetap berupaya memastikan kesejahteraan petani terjaga.(Kar/Prie















