“Sampai hari ini yang paling diskriminatif itu gedung bioskop. Tuna netra hanya bisa dengar saja saat di bioskop. Bagaimana caranya agar film bisa inklusi. Alhamdulillah beberapa waktu lalu, kami coba memberikan narasi. Ini sebuah inisiasi dari penyandang disabilitas,” tukasnya.
Film Sundul Langit disutradarai oleh penyandang tuna netra dan penulis naskah merupakan tuna rungu. Sementara para pemain film adalah gabungan antara penyandang disabilitas dan nondisabilitas.
Film ini bercerita tentang penyandang disabilitas tuli yang bersekolah di sekolah inklusi. Ia mendapat perundungan dari teman-temannya dan hampir merasa putus asa.
Kemudian, neneknya bercerita tentang kisah Nyai Brintik yang di-bully saat kecil. Nyai Brintik kuat dan menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Bocah penyandang disabilita tuli itupun termotivasi hingga akhirnya dia bisa menjadi juara karate. []












