Kirab Dugderan Tetap Meriah meski Kota Semarang Diguyur Hujan

oleh
Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu pimpin Kiran Dugderan dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Agung Semarang. (Foto: Dok)

Semarang – INFOPlus. Hujan tak menyurutkan antusiasme warga Kota Semarang mengikuti dan menyaksikan Kirab Dugderan menyambut datangnya Ramadan, Sabtu (9/3). Masyarakat tetap memenuhi jalanan yang dilewati rombongan kirab, dari Balai Kota menuju Masjid Kauman dan Alun-alun Semarang.

Prosesi Dugderan diawali dengan upacara di halaman Balai Kota Semarang. Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu bertindak sebagai Adipati Semarang Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purboningrum.

Mbak Ita, sapaan Wali Kota Semarang, mengatakan, prosesi Kirab Dugderan ini merupakan penanda agar masyarakat bersiap menyambut bulan suci Ramadan.

“Ini menjadi salah satu rangkaian nguri-uri budaya dengan kegiatan-kegiatan menjelang Ramadan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Mbak Ita juga menandai peresmian Dugderan dengan memukul bedug bersama jajaran Forkopimda.

Diiringi pasukan berkudo, peserta kirab dilepas dengan ditandai pemecahkan kendi. Mbak Ita lantas menaiki kereta kuda diiringi pasukan berkuda yang dikomandoi Kadisbudpar Kota Semarang, Wing Wiyarso di barisan terdepan.

Wali Kota Semarang perempuan pertama ini, bahkan turut membagi-bagikan makanan kepada masyarakat yang menonton kirab di sepanjang Jalan Pemuda.

Menurut Mbak Ita, prosesi Dugderan kali ini semakin lengkap dengan adanya keikutsertaan warga Tionghoa.

“Ada arak-arakan pasukan berkudo atau pasukan prajurit 40-an. Ditambah ada pembagian kue keranjang dari Paguyuban Tionghoa, selain kue ganjel rel yang ada di Masjid Agung Semarang dan dibagikan di Aloon-Aloon, karena masih jaraknya berdekatan dengan Imlek,” papar dia.

Dengan kolaborasi dan akulturasi budaya ini, Mbak Ita meyakini bahwa baru Kota Semarang saja yang memiliki prosesi seperti ini.

“Tentunya kami berharap bisa lancar semua proses dari Balai Kota kemudian Masjid Agung Semarang kemudian Masjid Agung Jawa Tengah. Pembagian kue ganjel rel dan kue keranjang ini juga menjadi wujud akulturasi budaya antara masyarakat Jawa, keturunan Arab, keturunan Tionghoa, dan keturunan Melayu. Tentunya akan menjadi satu rangkaian yang sangat dinantikan masyarakat,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Disbudpar, Wing Wiyarso mengatakan, kirab prosesi Dugderan digelar rutin setiap tahun. Prosesi Dugderan diinisiasi oleh Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat pada tahun 1881.

“Beliau mewujudkan satu kolaborasi akulturasi budaya. Ketika masyarakat Muslim menjelang Ramadan, antara umara dengan ulama bersama-sama mengumumkan kepada masyarakat untuk menyambut bulan suci Ramadan,” kata dia.