Kirab Dugderan Tetap Meriah meski Kota Semarang Diguyur Hujan

oleh
Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu pimpin Kiran Dugderan dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Agung Semarang. (Foto: Dok)

Ia menyebut, prosesi ini diawali dengan adanya Pasar Dugderan di sekitar Alun-alun Semarang yang dimeriahkan berbagai permainan.

Kemudian ada Warak Ngendog sebagai simbol Dugderan, merupakan binatang imajiner yang menunjukkan akulturasi budaya Kota Semarang sejak zaman dahulu kala.

Acara kebudayaan ini juga bentuk toleransi tinggi antarumat beragama, antar etnis yang ada di Kota Semarang. Apalagi kala itu, Semarang menjadi lokasi strategis dalam melakukan syiar agama Islam.

INFO lain :  Tak Ditahan, Anggota Ditpolair Polda Jateng Terdakwa Solar Ilegal Semarang Dituntut 18 Bulan Penjara

Ditambahkan, prosesi Dugderan kali ini kedua kalinya yang dilakukan setelah revitalisasi Alun-alun Kauman.

“Acara pertama ada penyerahan suhuf halaqah. Dari Balai Kota, rombongan Ibu Wali Kota yang memerankan tokoh Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Probodiningrum, nama lain kami izin kepada Keraton Surakarta karena Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat adalah putra. Ini dilakukan karena pimpinan kami putri, maka kami minta arahan kemudian diberikan nama tersebut,” kata dia.

INFO lain :  Sampah dan Pompa Air Masih Jadi Kendala Penanganan Banjir di Kota Semarang
INFO lain :  Hadapi Persik di Magelang, Panpel PSIS Koordinasi dengan Polisi

Mbak Ita memimpin prosesi kirab sampai Masjid Agung Semarang Kauman dan diterima oleh Tafsir Anom bersama alim ulama yang hadir. Di Masjid Kauman diumumkan kepada masyarakat tentang penentuan hari datangnya bulan suci Ramadan 1445 H. (Ags/Mw)