Mbak Ita Kutuk Pelaku Kekerasan Seksual Anak di Kemijen Semarang

oleh
Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu minta pelaku kekerasan seksual anak hingga korban meninggal dunia di Kemijen, Semarang Timur, dihukum seberat-beratnya. (Foto: Ist)

Semarang – INFOPlus. Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengutuk keras pelaku kekerasan seksual terhadap anak perempuan hingga meninggal dunia di Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur.

Mbak Ita, sapaan akrabnya, meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut agar pelaku dihukum seberat-beratnya.

“Saya mengutuk keras, kok kayak kurang gawean (kerjaan). Apa tidak kasihan terhadap korban, pelaku ini perlu dituntut seberat-beratnya,” kata Mbak Ita ditemui di Balai Kota Semarang, Rabu (1/11).

Mbak Ita mengaku prihatin dengan peristiwa-peristiwa pelecehan dan kekerasan seksual yang menimpa anak.

“Kasus-kasus seperti itu sebenarnya penanganannya tidak hanya peran pemerintah saja. Kami saat ini kerja sama dengan kepolisian terkait kentongan digital,” ujarnya.

INFO lain :  Beda Sikap Walikota Hendi dan Gibran Soal Pungutan THR di Kelurahan

Kejadian yang tidak hanya sekali terjadi itu, menurutnya harus menjadi perhatian bersama, baik dari pemerintah, aparat penegak hukum, maupun masyarakat. Termasuk juga dari peran lingkungan sekolah.

“Mestinya dengan program yang kami buat ini, orang tua bisa memberikan edukasi, kalau hanya sekolah saja tidak cukup,” katanya.

Sebagai seorang perempuan, Mbak Ita menekankan peran ibu agar meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan. Pasalnya, dalam beberapa kasus banyak predator seksual yang justru dari orang terdekat.

“Kadang-kadang tidak mengetahui ada sesuatu hal yang mohon maaf menyimpang, jangan ditinggalkan sendirian, ada saudara sekandung, ayah, dan tetangga (yang mungkin saja bisa menjadi pelaku),” ujarnya.

INFO lain :  Operasi Sikat Jaran Candi 2023 Mengamankan Ratusan Tersangka

Diungkapkan, Pemkot Semarang kini memiliki program khusus untuk menerima aduan dan memberikan pendampingan terhadap para korban.

“Pendampingan selalu kami berikan, namun ini untuk melindungi korban memang tidak diekspose. Tetapi alhamdulillah Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM) ini sangat berperan,” kata dia.

RDRM, lanjutnya, pada 2024 akan melibatkan rumah sakit, psikolog, hingga perguruan tinggi. Cara kolaborasi tersebut dapat menyentuh persoalan dari hulu sampai hilir.

Termasuk, pihaknya melalui RDRM juga berfokus menangani kesehatan mental. Pasalnya, dari beberapa kasus yang mencuat, pelaku beraksi setelah kecanduan film porno. Menurutnya, dalam studi dijelaskan kondisi ini dapat berdampak buruk termasuk pada kesehatan mental.

INFO lain :  Tol Semarang - Demak Selesai Tahun Ini

“Kalau saya komunikasi dengan kepolisian, mereka (pelaku) kebanyakan terpengaruh dari film-film porno. Di sini saya sebenarnya juga berharap Dinas Kominfo dapat membersihkan konten-konten tersebut,” tegas dia

Diketahui, seorang anak perempuan berusia 12 tahun ditemukan meninggal dunia secara tidak wajar di Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur. Dalam pemeriksaan medis, terdapat luka di dubur dan sobekan di alat kelamin korban.