JAKARTA– Bait puisi ciptaan Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, Rembang, Jawa Tengah KH Mustofa Bisri (Gus Mus) berjudul Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagimana’ yang dibacakan oleh Calon Gubernur Patahana Jawa Tengah, Ganjar Pranowo beberapa waktu lalu, beberapa bait pusinya dianggap telah menyudutkan umat Islam. Karena ditafsiri sebagai panggilan Adzan.
Pengamat komunikasi politik Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto menyatakan, akan ada saja orang yang memanfaatkan isu sara sebagai serangan politik. ”Dalam konteks pemilu, pilkada ya memang akan ada saja orang yang kemudian memanfaakan isu primordial, isu suku, agama, ras antar golongan itu sebagai political treatment,” kata Gun Gun, di Jakarta, kemarin.
Gun Gun menjelaskan, pernyataan Ganjar Pranowo dalam puisi itu bisa dijadikan semacam taking campagne untuk menyerang, hal ini memang sangat biasa dalam konteks pemilu, namun Gun Gun menyesalkan kalau ada kelompok yang mengexploitir isu sara, sebab isu sara memiliki daya ledak yang sebenrnya riskan memecah belah masyarakat.
“Jadi sebaiknya memang para kandidat maupu timses itu menghindari topik yang hubunganya dengan isu sara dan berganti dengan pertarungan gagasan,” ulasnya.
Menurut Gun Gun, semua isu sara di moment pemilu sasarannya untuk menurunkan atau mendelegitimasi citra, elektabilitas lawan politik, disemua pilkada akan muncul isu-isu yang memanfatkan isu sara. “Hanya masalahnya adalah apakah itu melanggar hukum dan kalau melanggar hukum kemudian seperti apa tindak lanjutnya, tapi kalau sekadar mengkritik puisi Ganjar ya itu menurut saya sah-sah saja melakukan kritik, hanya jangan terlalu berlebihan sehinga masuk ranah Character assasination (pembunuhan karakter),’’ tegasnya.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jamaluddin Mohammad menyampaikan ketidaksetujuan penggalan bait puisi Gus Mus itu menyinggung adzan panggilan sholat umat Islam. “Bukan bicara soal adzan, dalam kerangka besar puisi itu, ia hanya menyinggung soal formaslisasi islam secara garis besar. Islam yang hanya dikulit tetapi tidak sampai jadi laku spritiual sehari hari, tidak menjadi amaliyah tetapi hanya pada tingkatan formalisme islam saja, tidak pada subtansinya itu sebetulnya dari keleseuruhan puisi. Jadi soal formalisme islam,” terangnya.
Jamal melanjutkan, melihat puisi itu harus dari keseluruhan bukan dari penggalan kata perkata karena ada jalinan, kalau kita memahami itu mesti dari urutan atas ke bawah. Tidak boleh dipenggal penggal karena puisi itu mengatakan sesuatu dan dia tidak bisa ditafsiri setengah-setengah, “Memahami puisi itu harus utuh harus secara keseluruhan.” terangnya.
















