Bait puisi tersebut konteknya bukan sedang melecehkan adzan, bukan karena setiap saat adzan itu kita harus menggunakan pengeras suara. Melainkan sejauh mana memahami Tuhan itu sendiri, “yang saya tekankan bahwa itu adalah majas metafor, kalau metafor maka yang digunakan bukan makna leterlek, memahai kesenian itu bukan seperti matematika bukan satu tambah satu dua, bisa satu tambah satu ya empat atau lima,” katanya.
(Mahendra Bungalan /SMNetwork /CN40 )
















