Semarang – INFOPlus. Ndas Maling, jajanan tradisional asal Kelurahan Kudu, Kecamatan Genuk. Kota Semarang. Pemerintah setempat bersiap untuk mengusulkan kudapan tersebut jadi warisan budaya tak benda.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng turun langsung mempraktikkan pembuatan jajanan tradisional Ndas Maling bersama warga Kelurahan Kudu, Kecamatan Genuk, dalam rangkaian Sedekah Bumi dan Haul Mbah Senari, Minggu (12/7).
Ndas Maling merupakan kudapan khas Kelurahan Kudu berbahan tepung beras, kelapa parut, dan gula jawa, dengan tekstur agak kasar namun kenyal serta cita rasa manis gurih yang khas.
Selama ini, jajanan tersebut identik dengan tradisi Sedekah Bumi dan Haul Mbah Senari, sebuah nyadran dan buka luwur atau penggantian kain penutup makam leluhur Dusun Menanging yang digelar warga Kudu dan Karangroto setiap tahun.
Dalam sambutannya pada kegiatan tersebut, Agustina menyampaikan ketertarikannya pada nilai sejarah dan filosofi yang melekat pada Ndas Maling.
Nama jajanan ini berkaitan dengan cerita masyarakat setempat tentang wilayah Menanging yang dahulu kerap didatangi orang-orang yang hendak memohon keselamatan, tidak terkecuali pelaku pencurian atau maling.
Kudapan ini kemudian hadir sebagai simbol harapan warga agar tindak kejahatan menjauh dari wilayah tersebut, sekaligus pengingat bagi siapa pun untuk senantiasa meninggalkan perbuatan buruk.
Berangkat dari nilai filosofis tersebut, Agustina menginstruksikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang untuk serius menindaklanjuti usulan Ndas Maling sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ke Kementerian Kebudayaan.
Ia menilai jajanan ini punya nilai filosofi dan sejarah lokal yang layak mendapat pengakuan resmi, sekaligus berpotensi menjadi salah satu identitas kuliner Kota Semarang.
“Ndas Maling ini nanti mau saya video, terus saya kirimkan ke Jakarta, supaya bisa jadi warisan budaya tak benda (WBTB),” kata Agustina.
Selain arahan soal WBTB, Agustina turut meminta Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat menambah dukungan hewan kurban untuk pelaksanaan tradisi tahun mendatang,.
Juga meminta Dinas Pekerjaan Umum menyiapkan kebutuhan toren air dan mengkaji penambahan saluran di lokasi. Permohonan perbaikan area makam melalui skema tanah wakaf turut disampaikan Agustina dalam kesempatan tersebut.
Sementara, rangkaian prosesi nyadran dan buka luwur yang berlangsung sejak Sabtu (11/7) malam ini, kambing hasil nazar warga dipotong pada pukul 00.00 dini hari dan dimasak langsung di area makam tanpa boleh dicicipi lebih dulu.














