EDULUR SIKEP PEGUNUNGAN KENDENG KECEWA DENGAN GANJAR PRANOWO DAN PDI-P
Pati -INFOPlus. Puluhan warga Pegunungan Kendeng menggelar slametan pemilu di Sukolilo, Kabupaten Pati pada sabtu (20/01) malam.
Beberapa warga dan tokoh Kendeng menyatakan tidak akan memilih Ganjar Pranowo pada pilpres mendatang. Hal ini disebabkan oleh kekecewaan warga atas sikap Ganjar yang mengizinkan pendirian pabrik semen di Kawasan Pegunungan Kendeng, Rembang.
Tak hanya Ganjar, sedulur sikep juga mencibir PDI-Perjuangan yang diartikan sebagai penurunan daya ingat perjuangan.
Salah satu pejuang Kendeng asal Pati, Gunretno mengatakan, slametan pemilu ini bertema Melah Kanggo Milih. Acara ini untuk masyarakat lebih cerdas dalam memilih pemimpin yang akan datang.
“Kami mengajak seluruh rakyat Indonesia bukan persoalan uang atau apapun, ini sudah disepakati sistem untuk memilih pemimpin kita harus pilah-pilah,” ujar Gunretno.
Gunretno menambahkan, sikap politik dirinya bersama warga tak hanya menolak Ganjar, namun juga PDI-Perjuangan, partai dibelakang Ganjar yang saat dini diartikan warga sebagai penurunan daya ingat perjuangan karena telah melupakan sedulur sikep bagian dari wong cilik.
“Dalam hal ini mungkin tidak sekedar Pak Ganjar, tapi juga partai pengusungnya. Ini rakyat akan lebih tahu yang menggunakan nama wong cilik ini kami pertanyakan karena kami dari dulu PDIP itu kan penurunan daya ingat perjuangan jadi yang harus berjuang wong cilik, kurang apanya sedulur Kendeng ini wong cilik,” jelas Gunretno.
Hal senada juga disampaikan Ibu Supadmi, berarti selama ini dia menjadi gubernur gagal, karena ijin yang mengeluarkan adalah gubernur. Posisi dia saat itu gubernur, jadi dia mau lari dari tanggung jawab.
“Karena bapak Ganjar Pranowo itu yang mengeluarkan surat ijin pabrik semen, warga merasa trauma karena kalau janji cuma lamis,” terang Ibu Supadmi.
Konflik warga Kendeng dengan Ganjar terkait pendirian pabrik semen di Rembang terjadi pada tahun 2016 hingga 2017 lalu dimana membuat warga puluhan kali turun ke jalan hingga ke depan istana presiden dengan melakukan aksi cor kaki. (Mh/Mw)











