Mbak Ita: BRIDA Dorong Inovasi Pangan di Kota Semarang

oleh
Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu panen sayur di Kecamatan Mijen, belum lama ini. Keberadaan BRIDA bakal mendorong inovasi pangan di Kota Semarang. (Foto: Humas Pemkot Semarang)

Semarang – INFOPlus. Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu menyebut peran Badan Riset Inovasi Daerah (BRIDA) dalam penelitian dan pengembangan pangan sangat diperlukan. Hal itu untuk mendorong potensi pertanian dan lumbung pangan di Kota Semarang.

Mbak Ita, sapaan akrab Wali Kota Semarang, mengatakan, DPRD Kota Semarang pada Kamis (2/11) lalu telah mengesahkan peraturan daerah (Perda) tentang pembentukan SOTK baru bernama BRIDA.

Dengan Perda tersebut, Pemkot Semarang bisa mendapatkan riset dan kajian untuk pengembangan dan inovasi atas permasalahan di daerah.

“Pemkot telah mendapatkan support dari DPRD Kota Semarang terkait pengesahan SOTK baru adanya BRIDA, di mana dengan Perda ini kita bisa mengembangkan inovasi, khususnya bidang pangan. Termasuk di dalamnya ada budi daya tanaman-tanaman di Semarang,” kata Mbak Ita, Selasa (7/11).

INFO lain :  Pengelola Bioskop di Semarang Mulai Izin Operasional

Bahkan sebelumnya, lanjut Mbak Ita, Pemkot Semarang dengan BRIN (Badan Riset Inovasi Nasional) telah melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama. Kerja sama itu merupakan upaya penguatan ketahanan pangan untuk menekan inflasi serta penanggulangan stunting dan kemiskinan.

“Dengan BRIDA ini, mungkin nanti ada riset dan penelitian, sehingga bisa muncul varietas-varietas tanaman baru serta inovasi pertanian di Kota Semarang,” ujar dia.

INFO lain :  Mabuk di Sekolahan dan Taman, Puluhan Remaja di Semarang Diminta Push up

“Kalau di Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan berhasil membudi dayakan kelengkeng Hawai, bisa saja nanti namanya dipatenkan jadi kelengkeng Gondoriyo atau kelengkeng Pak Selamet. Jadi tinggal mengambil dari nama pengembangnya,” sambung Mbak Ita.

Di Gunungpati, pihaknya juga sudah ikut mendorong budi daya durian Malika. Nama Malika juga diambil dari nama pemiliknya.

“Karena kebetulan saya sedang mengawal budi daya durian Malika, karena durian ini sudah berumur 200 tahun. Nah kalau tidak dijaga, maka bisa punah, sehingga perlu riset konservasi tumbuhan terancam kepunahan,” jelasnya.

Belajar dari pengalaman, ada satu kejadian salah satu durian unggulan Semarang, durian Kholil, tidak bisa dikembangkan karena terkena petir.

INFO lain :  Amat Antono Dapat Dimintai Tanggungjawab Pidana atas Korupsi RSUD Kraton Jilid II

“Makanya ini tugas kita semua, tugas BRIDA juga untuk menjaga tanaman ini bisa tetap lestari di Kota Semarang. Saat ini, belum bisa menggunakan anggaran APBD, tapi kami upayakan mencarikan CSR dari swasta dan perusahaan,” imbuhnya.

Sementara itu, anggota DPRD Kota Semarang, Suharsono mengatakan BRIDA muncul atas inisiatif pemerintah dan masuk dalam perubahan program pembentukan Perda.

“Kami sangat mengapresiasi, karena BRIDA ini sangat Pemkot Semarang butuhkan,” ujar Sekretaris Komisi C DPRD Kota Semarang ini.