Pakar Transportasi Publik Singgung Hilangnya Jalur Lambat Perkotaan

oleh

Pakar transportasi publik Ir. Djoko Setijowarno, MT. (Foto : Andi M)

Semarang – Kebutuhan sarana dan prasarana sebuah kota dengan populasi masyarakatnya yang tinggi, berdampak terjadinya resiko sosial.

Salah satunya adalah adanya tingkat kepadatan pemakai jalan yang semakin tinggi.

Hal itu diungkapkan Ir. Djoko Setijowarno, pakar transportasi publik saat talks show road safety untuk smart city pada Senin (21/9/2020) di Lawang Sewu, Kota Semarang.

INFO lain :  137 Perlintasan Liar Ditutup PT KAI Karena Rawan Kecelakaan

Menurutnya, kebutuhan fasilitas sebuah kota smart city akan semakin kompleks nantinya. Semua itu, katanya, membutuhkan tingkat kesadaran yang tinggi dalam menjalaninya.

“Seperti diketahui bahwa di era digital sekarang ini, semua bisa terbantu dan terpantau dengan adanya perangkat elektronik. Di negara-negara maju bahkan sudah sejak beberapa puluh tahun yang lalu memberlakukan apapun dengan sebuah kartu. Mau naik bus pakai kàrtu, mau parkir pakai kartu, mau belanja pakai kartu. Itu contoh-contohnya saja. Jadi bisa dikatakan bahwa kartu itu adalah dompetnya,” katanya.

INFO lain :  Ahli MAKI dalam Praperadilan atas SP3 Kasus Buku Ajar Blora Melawan Kejati dan BPKP Jateng Sebut, Harusnya Tak Dibayar

Lebih jauh disinggung aktivitas seperti bersepeda, bila masuk dalam konteks smart city, maka seharusnya memiliki jalur khusus.

Selain itu juga kelengkapan lain pesepeda, diantaranya helm, lampu, baju khusus yang dapat dilihat di kejauhan.

INFO lain :  Replika Benda Peninggalan Nabi Muhammad Dipamerkan

“Dulu ada yang namanya istilah jalur lambat. Jalur ini dulunya digunakan khusus buat becak, sehingga kelebarannya diukur dari becak. Tapi seiring dengan bertambahnya pertumbuhan kendaraan bermotor sementara fasilitas jalan hanya tumbuh dengan pelebaran bahu jalannya saja, maka banyak jalur lambat yang ikut gena gusur. Yang masih ada jalur lambatnya di Kota Semarang salah satunya di Jl. Mataram,” jelasnya.

(Andi M)