Sinergi APBN dan APBD tercermin dari realisasi belanja daerah yang mencakup belanja operasi, belanja modal, belanja transfer, serta belanja tak terduga. Pelaksanaan fiskal yang terjaga ini berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah di tengah dinamika ekonomi nasional dan global.
Di sektor pangan, Jawa Tengah kembali menegaskan peran strategisnya sebagai kontributor utama ketahanan pangan nasional. Sepanjang 2025, penyerapan gabah dan beras oleh Perum BULOG di Jawa Tengah mencapai 331.618 ton setara beras atau 98,56 persen dari target, tertinggi dalam enam tahun terakhir. Capaian ini didukung panen raya serta kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang efektif menjaga stabilitas harga gabah petani.
Selain itu, dukungan pemerintah terhadap sektor riil terus diperkuat melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang mencapai Rp47,07 triliun kepada 897.004 debitur, serta Kredit Ultra Mikro (UMi) sebesar Rp1,46 triliun untuk 276.827 debitur. Pembiayaan ini berperan penting dalam mendorong ekonomi kerakyatan, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan daya saing produk lokal Jawa Tengah.
Dengan capaian tersebut, pelaksanaan APBN di Jawa Tengah hingga akhir 2025 dinilai tetap terjaga, seimbang, dan adaptif. Kondisi ini menjadi fondasi yang kuat bagi kesinambungan stabilitas fiskal serta pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada awal tahun anggaran berikutnya. (Kar/Prie)















