Penanganan Kolaboratif dan Terpadu Berhasil Minimalkan Banjir di Kota Semarang

oleh
penanganan banjir di Semarang
Pembangunan rumah pompa menjadi salah satu strategi khusus Kota Semarang minimalkan banjir di wilayahnya. (Foto: Ist)

Terkait peninggian jembatan Nogososro, Lurah Tlogosari Kulon, Hananto Lesworo merasa senang dan mengapresiasi langkah yang ditempuh oleh Pemkot Semarang dalam mengatasi persoalan banjir di wilayah Tlogosari Kulon dan Tlogosari Wetan tersebut.

“Masyarakat sekitar Nogososro sebetulnya sudah mengeluhkan permasalahan banjir yang kerap terjadi di wilayah itu, lima atau bahkan 10 tahun ke belakang. Posisi jembatan itu rendah sama dengan permukaan air sungai, sehingga kalau hujan sedikit saja pasti limpasannya ke jalan Nogososro dan sekitarnya termasuk Jalan Kawung hingga masuk ke permukiman warga,” terang Hananto.

Sehingga peninggian jembatan Nogososro yang dilakukan di era kepemimpinan Mbak Ita sangat menggembirakan warga yang ada di sekitar Nogososro.

INFO lain :  Insiden Polisi Tembak Polisi

“Warga senang, karena setelah peninggian jembatan, alhamdulillah sekarang aliran arus sungainya lancar sehingga tidak ada lagi genangan di sekitar wilayah Nogososro,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, Budi Prakosa. Bahwa proyek pengendalian banjir Kota Semarang dirancang secara kolaboratif oleh berbagai OPD, BBWS, pemerintah provinsi dan pusat.

“Sebagai bagian dari National Urban Flood Resilience Project (NUFReP), kami telah merancang beberapa proyek strategis, termasuk pengendalian banjir Plamongan Hijau. Ini bukan hanya proyek teknis, tetapi juga solusi berkelanjutan untuk mengurangi risiko banjir yang kerap melanda wilayah perkotaan,” ujar Budi.

INFO lain :  Pertama di Indonesia, Bandara Ahmad Yani Semarang Pakai Digitalisasi Smart Stream AI

Dijelaskannya, proyek pengendalian banjir mencakup beberapa inisiatif seperti pembangunan kolam retensi di Plamongan Hijau, menyediakan kapasitas penyimpanan air sebesar 500.000 meter kubik untuk meredam limpasan hujan.

Juga penambahan unit pompa dengan kapasitas total 2.500 liter per detik di titik rawan banjir seperti Semarang Utara dan Timur hingga pembangunan Bendung Kanal Banjir Barat yang dapat meningkatkan kapasitas saluran air hingga 30% dan mengurangi genangan di kawasan strategis.

INFO lain :  Semarang Jadi Satu-satunya Kota Besar yang Masuk Nominasi TPID Award

Selain itu, rehabilitasi sistem drainase perkotaan modern dirancang dengan anggaran Rp1,8 triliun untuk memastikan aliran air yang lebih efisien.

Sementara, Kepala BBWS Pemali Juana, Fikri Abdurrahman mengatakan sejumlah upaya sinergis terus dilakukan BBWS, baik secara rutin, jangka sedang serta menengah.

“Secara rutin kami melaksanakan inspeksi pemeliharaan sungai, mengoptimalkan rumah pompa untuk mempercepat daya surut genangan banjir,” ungkap Suhartono.

Tak hanya itu, pihaknya juga terus berproses untuk mengupayakan pengendalian banjir di Kali Sringin dan Kali Tenggang dengan pembiayaan loan nufrep.