Kolektor Koperasi Syariah BMT Mitra Umat Pekalongan Digeruduk Nasabah

oleh
Belasan nasabah geruduk rumah salah satu kolektor BMT Mitra Umat Pekalongan. (Foto: Ist)
Belasan nasabah geruduk rumah salah satu kolektor BMT Mitra Umat Pekalongan. (Foto: Ist)

PekalonganINFOPlus. Belasan nasabah mendatangi rumah seorang kolektor dari Koperasi Syariah BMT Mitra Umat Kota Pekalongan pada Minggu (9/6). Aksi tersebut langsung membuat geger warga sekitar.

Masalah ini berawal ketika nasabah yang menabung melalui kolektor berinisial N tidak dapat mencairkan uang tabungan mereka.

Seorang nasabah, UM, mengungkapkan bahwa mereka sudah mencoba berbagai cara untuk mendapatkan kejelasan mengenai nasib uang tabungan tersebut. Namun, baik pengurus koperasi maupun kolektor tidak memberikan jawaban yang memuaskan.

“Hari ini kami datang untuk meminta penjelasan langsung dari kolektor mengenai informasi terkini, termasuk perkembangan laporan polisi yang hingga kini belum ada kabarnya,” ujar UM.

Semula aksi para nasabah berlangsung damai. Namun, suasana mulai memanas ketika penjelasan dari kolektor dianggap tidak memadai.

Ketegangan sempat terjadi, memaksa kuasa hukum kolektor, Didik Pramono dari LBH Adhyaksa, turun tangan untuk menenangkan situasi.

“Untuk menghindari keributan lebih lanjut, kami fasilitasi para nasabah untuk bisa meminta penjelasan langsung dari polisi. Tidak hanya itu saja, bagi nasabah koperasi lain seperti BMT Nurussa’adah dan BMT An-Naba juga dipersilakan sekalian untuk langsung ke Polres Pekalongan Kota,” jelas Didik.

Dalam upayanya mencari keadilan, nasabah yang merasa menjadi korban juga didorong untuk membuat laporan polisi.

Didik Pramono menegaskan bahwa untuk kasus BMT An-Naba, nasabah yang sudah menjadi korban sejak empat tahun lalu pun bisa membuat laporan agar proses hukum bisa berjalan.

“Saya meminta semua korban dari BMT An-Naba yang belum membuat laporan untuk segera mendatangi Polres Pekalongan Kota agar kasus mereka juga bisa ditindaklanjuti,” tambah Didik.

Kolektor N mengaku bahwa kejadian digeruduk nasabah bukan pertama kali ini terjadi. Namun, sejak adanya kuasa hukum, frekuensi kejadian tersebut berkurang signifikan.

“Kalau dulu hampir tiap hari didatangi nasabah. Nomor kontak saya tidak berhenti ditelepon dan di-chat orang. Mereka bertanya kabar hingga memaki-maki. Yang paling parah adalah saat didatangi banyak nasabah menjelang tengah malam. Jadi benar-benar seperti diteror,” kata N mengungkapkan pengalamannya.

N bersama nasabah berharap agar laporan yang sudah dua bulan lebih jalan di tempat dapat segera ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian. (Al/Mw)