Pada tahun ini, maskot Warak Padewaras, kepanjangan dari Paku atau Pena Demokrasi Warga Kota Semarang yang pernah dipakai di Pilkada sebelumnya masih digunakan. Sedangkan jingle kali ini mengandung makna guyub rukun dan migunani.
Dalam kesempatan itu, Mbak Ita sapaan Hevearita Gunaryanti Rahayu berpesan agar masyarakat bisa menjaga kondusifitas saat pelaksanaan Pemilu Pilkada di Kota Semarang. Dirinya juga meminta semua pihak untuk terlibat dalam pengamanan agar Pemilu berjalan dengan lancar dan tertib.
“Tentunya kita harapkan ini merupakan tahapan-tahapan yang insya Allah bisa dilalui dengan lancar, dan nantinya siapa pun calon wali kota atau wakil wali Kota yang maju ya kita tetap menjaga semua proses-proses yang ada,” ujarnya.
Mbak Ita mengakui, partisipasi masyarakat saat ini masih menjadi persoalan tersendiri. Di Pilkada sebelumnya, total partisipasi warga Kota Semarang mencapai 68 persen. Angka itu dinilai masih di bawah target, akan tetapi ada beberapa pemicu, salah satunya merebaknya Covid-19.
Ke depan, ia meminta masyarakat bisa aktif dalam keikutsertaan di Pilkada 2024. Bagi Mbak Ita, keterlibatan masyarakat di Pemilu sangat penting dalam menentukan pemimpin Kota Semarang.
“Jadi siapa pun nanti yang menjadi calon, monggo itu tolong jaga kondusifitas. Tidak perlu, mungkin, menjelek-jelekan lawan dan sebagainya gitu. Dan masyarakat kan juga sudah belajarlah dari masa-masa yang lalu. Kalau kami sih yakin Insya-Allah masyarakat di sini sudah banyak belajar dari masa lalu, apalagi juga Pileg, Pilpres kan banyak perbedaan pilihan. Tetapi kan masih kondusif. Perbedaan-perbedaan boleh, tetapi tetap jaga kondusifitas di Kota Semarang,” imbuh dia.
Sementara itu, Ketua KPU Kota Semarang, Henry Casandra Gultom menjelaskan, alasan terkait maskot yang masih sama seperti Pilkada sebelumnya. Menurutnya, Warak Padewaras masih sangat relevan menggambarkan toleransi dan kedamaian Kota Semarang.
“Untuk maskotnya sebenarnya kita masih menggunakan maskot yang Pilkada-Pilkada sebelumnya, karena saya kira maskot tersebut masih sangat relevan untuk menggambarkan Kota Semarang,” terang Nanda sapaannya.












