Daya Magnetis Mudik dan Fenomena Transpersonal Oleh Tugimin Supriyadi

oleh

Inilah yang spesial dari psikologi transpersonal, karena penanganan aspek emosi dan kognitif yang tidak dikehendaki oleh individu seperti perasaan marah, sedih, kecewa, dan pikiran negatif tidak serta merta di-counter. Menurut psikologi transpersonal, akan lebih baik apabila individu mengakui dan mengijinkan emosi dan pemikiran tersebut ada. Asumsinya adalah tidak ada emosi dan pikiran yang negatif atau tidak baik. Hal itu hanya label dari manusia. Proses ini termasuk dalam konsep full-awareness dimana individu sadar penuh dengan apa yang terjadi dalam diri.

Berkaca dari peristiwa mudik, sebuah perubahan perilaku yang membuat seseorang menjadi lebih terbuka, menjadi lebih alim, menjadi mudah meminta maaf dan mudah memaafkan, mengarahkan pada jalan pikiran kita bahwa psikologi transpersonal pantas menyandang predikat sebagai psikologi yang mengakui masing-masing sisi spesial individu, berupa nilai-nilai hidup, prinsip hidup, pemaknaan dari kejadian di masa lalu, agama, serta keyakinan. Penekanan pada aspek spiritual personal masing-masing individu inilah yang membuka aliran psikologi transpersonal, dimana timur dan barat bertemu.

 

INFO lain :  Operasi Temukan 69.513 Pelanggaran. 20.872 Kena Tilang

Istimewanya perubahan Perilaku

Yang patut menjadi pembelajaran buat kita semua adalah begitu kentalnya perubahan perilaku kita saat berpuasa dan kemudian merayakan Idul fitri di kampung halaman seperti yang terjadi perayaan idul fitri 1445 H beberapa waktu yang lalu. Dimana perilaku kita berubah dratis tanpa diarahkan, jalan dengan sendirinya. Dan perubahan perilaku itu secara otomatis menjadi budaya yang turun temurun terjadi dengan mengalir begitu saja.  Meminta maaf dan memaafkan menjadi budaya sangat kuat dan melekat dalam setiap sanubari kita.

INFO lain :  Rute Trans Semarang akan Ditambah

Sekali lagi, menurut psikologi transpersonal, akan lebih baik kita sebagai individu mengakui dan mengijinkan emosi dan pemikiran kita layaknya perilaku kita saat merayakan Idul Fitri. Asumsinya adalah, tidak ada emosi dan pikiran negative atau, tidak ada pikiran yang tidak baik. Semoga ulasan singkat ini menjadi pembelajaran buat kita semua, untuk terus membudayakan Mudik Idul Fitri, sehingga kita tetap menjadi pribadi yang membuka diri, mau meminta maaf dan mau memaafkan. (*).

INFO lain :  Budi Daya Pohon Kurma di MAJT Diharap jadi Destinasi Baru

(Tugimin Supriyadi adalah Pemimpin Redaksi INFOplus, Psikolog & Pengamat Kepolisian, serta Dosen Fakultas Psikologi Ubhara Jaya)