Daya Magnetis Mudik dan Fenomena Transpersonal
Oleh Tugimin Supriyadi
Mudik alias pulang kampung saat merayakan lebaran Idul Fitri menjadi daya magnetis yang sangat kuat bagi umat Muslim khusunya dan Masyarakat secara keseluruhan. Lebaran Idul Fitri yang merupakan hari besarnya Umat Muslim ini merupakan fenomena bersejarah yang membudaya di Indonesia. Bahkan fenomena ini menyedot perhatian dunia, karena fenomena mudi ini hanya terjadi di Indonesia. Bahkan, di negara Arab, perayaan lebaran Idul Fitri tidak semeriah di Indonesia.
Daya magnetis mudik menjadi sangat menarik Ketika kita hubungkan dengan perilaku medik yang ternyata di balik mudik tersebut terdapat perubahan perilaku. Perilaku yang dimaksud adalah berubahnya seseorang yang sebelumnya melaksanakan ibadah sholat dan puasa biasa saja, kemudian menjadi “luar biasa”. Ambillah suatu contoh Ketika seseorang sebelum bulan Romadhon dan sebelum mudik ogah-ogahan dalam menajalankan ibadah, namun Ketika bulan Romadhan, seperti halnya bulan Romadhan 1445 H, seseorang menjadi sangat rajin beribadah, menjadi seorang yang pemaaf dan sebagainya. Daya magnetis dari mudik ini mengingatkan kita pada teori psikologi yang belakangan berkembang di Indonesia, yakni psikologi transpersonal.
Psikologi transpersonal sendiri merupakan ilmu baru di psikologi. Psikologi transpersonal dikembangkan berdasarkan pada komponen manusia yaitu body, mind, soul, dan spirit. Apabila terapi psikologi lain lebih banyak mengubah aspek-aspek yang dapat diamati, maka psikologi transpersonal berusaha untuk mengungkap ranah yang lebih dalam, yaitu jiwa. Psikologi transpersonal dapat dikatakan sebagai perpaduan ilmu psikologi dan bidang spiritual. Walaupun ilmu baru, menurut Kwartarini Wahyu Yuniarti, M.Med. Sc., Ph.D psikologi (2022) transpersonal sudah menjadi salah satu mazhab atau aliran besar di psikologi.
Menjadi lebih terbuka adalah ciri-ciri seseorang yang telah memahami dan menjalani psikologi transpersonal, walaupun acapkali individu itu sendiri tidak menyadarinya. Di saat mudik dan kemudian ber anjang sana kesanak famili yang dikampung, individua atau seseorang menjadi terbuka, mudah minta maaf dan mudah memaafkan. Secara tidak langsung ini merupakan sebuah terapai, yang berjalan dengan lancar tanpa mesti diarahkan dan dikendalikan oleh seorang psikolog atau terpis.
Terapi transpersonal menekankan mengenai mindfullness dan full-awareness. Terpi itu adalah terpai yang ,”Full-awareness itu lepas dari konsentrasi itu sendiri, sehingga balancing terjadi.” Sedangkan mindfullness merupakan bagaimana individu sadar penuh akan sekelilingnya. Sadar dengan tidak memaksa pikiran untuk berkonsentrasi, tetapi dengan let it flow.















