Semarang – INFOPlus. Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) Jateng mendorong peran aktif masyarakat, khususnya di kawasan hulu, untuk bersama terlibat dalam upaya penanganan banjir dan rob. Pasalnya, masalah genangan air di kawasan hilir merupakan imbas dari persoalan lingkungan yang terjadi di hulu.
Ketua HATHI Jateng Harya Muldianto mengungkapkan di Jateng, ada tiga persoalan sumber daya air (SDA) yang perlu mendapat perhatian bersama. Yakni masalah kelebihan air, kekurangan air dan persoalan kualitas air. Khusus persoalan kelebihan air ini, lebih spesifik adalah banjir dan rob, biasa terjadi di wilayah pesisir seperti Kota Semarang.
“Kami selaku HATHI, yang di dalamnya ada akademisi, praktisi, termasuk ASN, nanti bersama-sama mencari solusi, seperti seminar dan FGD, membahas genangan di Kota Semarang, khususnya banjir akibat hujan maupun rob akibat pasang air laut,” tuturnya usai pelantikan ketua dan pengurus HATHI Jateng di kampus Politeknik Pekerjaan Umum Semarang, Jalan Soekarno Hatta, Rabu (31/1).
Lebih lanjut, penanganan banjir yang terjadi di kawasan hulu atau pesisir tidak bisa dilakukan secara parial oleh instansi pekerjaan umum dan stakeholder terkait setempat. Perlu ada pelibatan lintas daerah, yakni pemangku kebijakan di hilir beserta masyarakat yang ada, agar genangan air bisa tertangani secara menyeluruh.
“Penanganan berbasis partisipasi masyarakat ini yang sedang kita galakkan. Mereka kita ajak urun rembuk untuk tangani genangan. Seperti di kawasan hulu yang sekarang jadi pertanian, kita ajak dan dorong masyarakat untuk kembalikan menjadi kawasan hutan,” ujar dia.
“Atau peran dari pemda melalui perda tata ruang, jadi harus lebih hati-hati dalam menetapkan aturan. Jadi memang kita tidak bisa menampik adanya kebutuhan pemerintah dalam pengembangan wilayah, tapi bagaimana nanti dalam menata wilayah itu tetap lebih bisa mengupayakan air lebih banyak bisa terserap ke tanah sehingga tidak terjadi banjir di hilir,” imbuh pria yang juga Kepala BBWS Pemali Juana ini.
Sekretaris Umum HATHI Pusat, Adek Rizaldi menyampaikan tantangan pengelolaan sumber daya air ke depan semakin kompleks. Menurutnya, persoalan SDA ini tidak lepas dari masalah lingkungan dan itu berkorelasi erat dengan bagaimana pengelolaan dan tata guna lahan di kawasan hulu.
“Jadi dampak yang terjadi di kawasan hilir (banjir) merupakan pengaruh dari hulu. Ditambah fenomena perubahan iklim, termasuk iklim dunia. Sehingga berdampak pada terjadinya cuaca ekstrim sehingga siklus hidrologi kita terganggu,” ujar dia.












