“Untuk setiap makanan tambahan, kami berikan setiap jam 9-10 WIB. Ini karena kami hanya memberikan makanan tambahan sebelum makan siang,” jelasnya.
Sementara itu, Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, program Cempaka melengkapi program pengentasan stunting yang sudah ada sebelumnya. Program-program yang dimaksud tersebut antara lain, Rumah Pelita, Melon Mask, Garang Asem, dan program inovasi lainnya.
“Memang di Kota Semarang kami lakukan intervensi-intervensi. Dengan Rumah Pelita dan pemberian makanan tambahan kepada balita untuk pemenuhan gizi ibu hamil KEK atau anemia,” kata dia.
Mekanisme pemberian PMT dilakukan dengan cara puskesmas mengambil dari masing-masing hotel.
“Misal di Kecamatan Candisari kan ada Hotel Aruss, Patra, Grand Candi, Grand Edge dan lain-lain. Itu dikumpulkan dan diambil oleh petugas puskesmas dan di drop ke kelurahan. Di sana sudah ada dari Disdalduk yakni tim pendamping keluarga. Mereka nanti yang akan membagikan kepada anak stunting atau ibu hamil KEK atau anemia,” terangnya.
Mbak Ita menyebut, tim pendamping keluarga terus melakukan monitor dan pengawasan gizi. “Kita kejar tumbuh, sehingga harapannya bisa mempercepat anak-anak lulus stunting dan ibu hamil lulus KEK ataupun anemia,” kata dia.
Di Kota Semarang, angka stunting terus mengalami penurunan. Dari 1.340 kasus stunting yang terjadi pada Februari 2023 lalu, kini tinggal 872 kasus anak yang dinyatakan stunting dan 774 ibu KEK maupun anemia.
“Dengan kerja sama PHRI dan mungkin nantinya bisa dikembangkan dengan Aprindo pengusaha retail bisa benar-benar zero stunting di Kota Semarang. Kita akan pantau dan monitor terus perkembangannya,” imbuhnya. (Ags/Mw)












