Fakta Sidang Korupsi BJB Semarang Terungkap, Sistem Kasbon Tidak Sesuai SOP

oleh

Semarang – Sejumlah atasan terdakwa, Adhitiya Prasetyo Wibisono SE, mantan AO pada Bank BJB Semarang mengaku adanya sistem kasbon, atau pencairan kredit diteller oleh pihak bank. Hal itu terungkap pada surat tuntutan Jaksa Penuntut Umum pada Kejari Kota Semarang atas terdakwa Adhitiya di Pengadilan Tipikor Semarang.

Maria Dwi Rahmawati (37), sejak 22 Desember 2008 sampai sekarang menjadi bisnis consumer atau manager bisnis. Diungkapkannya, kertas kas bon berasal dari bagian operasional yang fungsinya sepengetahuannya sebagai kontrol. Bagian operasional mengeluarkan uang dimana sore harinya AO harus bertanggung jawab terhadap uang yang telah dikeluarkan.

“Jika kredit gagal maka uang akan kembali, jika kredit berhasil maka AO akan menyelesaikan pertanggungjawaban dalam bentuk menyerahkan kelengkapan penarikan yang telah ditanda tangani debitur,” sebutnya di surat tuntutan JPU.

Dikatakannya, dasar dan alasan saksi tanda tangan kas bon bersama bagian oprasional tersebut adalah tidak lain hanya sebagai kebutuhan untuk pelunasan.

Kertas kasbon disebutnya hanya sebagai media kontrol dari masing-masing unit, kebiasan terdahulu justru tidak menggunakan alat kontrol berupa kertas kasbon dan uang bisa dicairkan.

Sistem Kas bon tersebut sudah berlaku sejak jaman dahulu. Ia mengaku hanya menjalankan kebiasaan terdahulu, dan kertas kasbon hanya sebagai alat kontrol.

Saksi Octaviyanti Retno Palupi (36), sejak 12 Nopember 2008 dan sejak 1 Juli 2018 sampai sekarang menjabat sebagai Manajer Operasional Bank BJB Cabang Semarang.

Dikatakannya, tidak terdapat aturan yang mengatur terkait dengan pendelegasian kewenangan dari pejabat bank / bisnis legal / OOK kepada AO terkait penandatangan dokumen kredit ke debitur.

“Pelimpahan kewenangan berdasarkan kondisi pada saat kejadian akad kredit terdapat overload pekerjaan pada Bisnis Legal. Sehingga Terdakwa menawarkan bantuan untuk menandatangankan dokumen kredit kepada debitur,” katanya.

Menurutnya tidak ada aturan yang mengatur terkait kasbon tersebut. Hal tersebut saksi lakukan sebagai mitigasi dalam pertanggungjawaban pengeluaran uang kas teller yang dibawa oleh Terdakwa sampai dengan dokumen slip tarikan yang telah ditandatangan oleh debitur dikembalikan ke teller.

Sementara saksi Arini Ronitasri (35), sejak November 2008 dan sejak 2014 sampai sekarang menjabat sebagai officer Dana dan Jasa BJB cabang Semarang mengakui. Terdakwa pernah mengajukan kas bon untuk take over kredit atasnama beberapa nasabah. Kas bon dengan menggunakan slip kas bon yang ditandatangani manager operasional, manager bisnis, Acount Officer.

Setelah 3 orang sudah tanda tangan baru saksi tanda tangan dan saksi keluarkan uang tersebut dan diberikan ke Terdakwa. Pada sore harinya Terdakwa baru memberikan slip penarikan tunai atas nama para nasabah tersebut, yang sudah ditanda tangan nasabah tersebut dan fotocopy KTP.

Slip Kas bon tersebut setelah transaksi selesai langsung saksi buang, tidak saksi simpan. Diakui, semuanya tidak sesuai SOP, karena itu merupakan kebijakan setiap cabang dan diketahui oleh Manager Bisnis dan manager operasional.

:Alasan saksi tetap memproses transaksi penarikan tunai debitur atas nama nasabah padahal yang dibawa oleh Terdakwa, karena sudah kebiasaan di Bank BJB cabang Semarang,” sebut dia.

Saksi memproses transaksi penarikan tunai yang diajukan Terdakwa atasnama debitur dan saksi sudah tidak melaporkan ke pimpinan saksi (manager operasional) karena manager operasional sudah tanda tangan di slip cash bon dan slip penarikan.

(rdi)