Terdakwa Korupsi BJB Semarang Dituntut 10,5 Tahun Penjara

oleh

Semarang – Terdakwa perkara korupsi Bank BJB Cabang Semarang dengan kerugian negara ditaksir sekitar Rp 10,5 miliar, Adhitiya Prasetyo Wibisono SE MM bin Hendrar (27), dituntut pidana 10 tahun 6 bulan penjara.

Atas tuntutan itu, terdakwa didampingi kuasa hukumnya mengajukan pledoi atau pembelaannya pada sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Kamis (16/6/2022).

“Sidang beragenda penyampaian pembelaan,” kata Panmud Tipikor Semarang, Endang Widjajanti.

Selain pidana badan, mantan Account Officer Retail dan Consumer PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, Tbk. Cabang Semarang juga dituntut pidana denda Rp 500 juta subsidair 6 bulan kurungan.

Membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 10,5 miliar subsidair 5 tahun dan 3 bulan penjara.

Terdakwa Adhitiya, warga Jl.Handayani I Nomor 32 Rt 02 Rw 10 Kel. Sukorejo Kec. Gunungpati Kota Semarang yang tinggal di Kiyageng Gribik Nomor 5C . Kel. Sekaran Kec. Gunungpati Kota Semarang itu dinilai jaksa korupsi menilep uang negara di BJB.

Perbuatannya terbukti sesuai Pasal 2 ayat (1) Jo. Pasal 18 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat (1) KUHP sebagaimana dalam Dakwaan Kesatu Primair.

Niam Firdaus, JPU pada Kejari Kota Semarang dalam surat tuntutannya mempertimbangkan, hal yang memberatkan : Perbuatan Terdakwa tidak mendukung program pemberantasan tindak pidana korupsi. Perbuatan Terdakwa telah merugikan keuangan Negara dalam hal ini Bank Jabar Banten Cabang Semarang. Yang meringankan : Terdakwa belum pernah dihukum.

Terkait dibebani membayar uang pengganti sebesar Rp10.598.452.507, dikurangi uang tunai yang telah disita dari terdakwa Rp 125 juta sehingga sisa sebesar Rp 10.473.452.507.

Dugaan korupsi terjadi atas kredit fiktif dan top up fasilitas kredit Guna Bhakti (KGB) atas 40 debitur BJB Cabang Semarang.

Kasus terjadi sejak September 2019 sampai Oktober tahun 2020. Tanpa persetujuan dan tanpa sepengetahuan masing-masing debitur, terdakwa selaku Account Officer Konsumer atas inisiatif sendiri mengajukan kredit dan top up kredit fiktif.

Dari perolehan uang kredit yang difiktifkm itu, terdakwa memakainya untuk kepentingan pribadi. Di antaranya trading Rp 7 miliar, membeli mobil, rumah, motor dll.

Perkaranya diperiksa majelis hakim, AA PT Ngr Rajendra (ketua), Rochmad dan Anggraeni (anggota).

(rdi)