Terdakwa Korupsi Bank Jateng Pekalongan Ungkap “Bobroknya” Sistem

oleh

Semarang – Terdakwa perkara dugaan korupsi PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah Cabang Pekalongan mengungkap “bobroknya” sistem pengelolaan pada bank plat merah tempatnya bekerja. Hal itu diungkapkan Moh Fredian Husni (27), terdakwa dugaan pembobolan Rp 4,4 miliar yang dituntut 8,5 tahun penjara dalam dupliknya pada sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (12/2/2019).

Lewat kuasa hukumnya, Mohammad Dasuki, Teller Kantor Kas Mobil Keliling Bank Jateng Cabang Pekalongan sekaligus Petugas PIC/Person In Charge Automatic Teller Machine (ATM) itu mengungkapkan.

Sesuai fakta, SOP tentang pengisian ATM telah dilanggar oleh banyak pihak. Yakni, bagian kas besar yang tidak menyediakan kaset tersegel untuk membawa uang, petugas pendamping, petugas yang bertanggungjawab terhadap CCTV sebagai sistem keamanan, dan Kepala Kantor Cabang.

“Sejak awal terdakwa bertugas sebagai petugas pengisian ATM, SOP tentang pengisian ATM telah tidak difungsikan oleh para pihak yang bertanggungjawab dalam pengelolaan ATM,” ungkapnya pada sidang dipimpin majelis hakim Aloysius Prihanoto Bayuaji.

Uang pengisian ATM dari kantor kas besar, lanjutnya, juga tidak dibawa dalam kaset tersegel. Tetapi dibawa dengan menggunakan tas kresek plastik, atau tas biasa.

“Padahal seharusnya dari kas besar uang tersebut dibawa dengan menggunakan kaset tersegel sehingga tidak dapat diambil oleh terdakwa. Petugas yang bertanggungjawab atas keamanan juga tidak memeriksa secara regular kamera CCTV,” imbuhnya.

Kamera CCTV hanya dibuka jika terdapat complain / pengaduan dari konsumen. Petugas pendamping juga tidak difungsikan sebagaimana mestinya.

“Pimpinan cabang juga tidak melakukan evaluasi menyeluruh atas SOP dalam pengelolaan ATM. Sehingga dalam kurun waktu berbulan – bulan tidak mengetahui jika bank kekurangan kaset atau terdapat kaset yang rusak,” ungkapnya.

Menurutnya, tidaklah relevan terdakwa didakwa melakukan pelanggaran atas SOP yang mana SOP tersebut sejak awal ia bekerja sudah tidak difungsikan sebagaimana mestinya oleh para pengelola perbankan yang bersangkutan.

Ditambah Mohammad Dasuki, sebelum menjadi teller dan Person In Charge, Terdakwa tidak pernah melakukan perbuatan pidana yang merugikan perusahaan. Kesempatan untuk melakukan perbuatan pidana terjadi setelah ia menjadi teller dan PIC.

“Dan sejak semula telah terjadi pengabaian kolektif oleh aparatur perbankan atas SOP yang dibakukan dan diberlakukan dalam internal perusahaan. Pengabaian kolektif ini merupakan bentuk patologi organisasi dan merupakan salah satu indikator belum tercipta budaya kerja yang sehat di lingkungan organisasi yang bersangkutan,” kata dia.

Atas duplik terdakwa, majelis hakim akan menentukan sikapnya, menjatuhkan putusannya pada sidang pekan depan.

“Sidang ditunda, Selasa (19/2/2019) beragenda pembacaan putusan,” kata Aloysius.

Moh Fredian Husni dinilai bersalah sebagaimana dakwaan primair melanggar Pasal 2 ayat 1 Jo Pasal 18 UU RI nomor 31/ 1999 sebagaimana diubah dan ditambah UU RI nomor 20/ 2001 tentang pemberantasan korupsi Jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Moh Fredia Husni dengan pidana 8 tahun dan 6 bulan penjara dikurangi selama terdakwa ditahan,” Rully Trie Prasetyo dan Sri Maryati, JPU dalam amar tuntutannya.
Terdakwa Fredian juga dituntut membayar denda Rp 200 juta subsidair 3 bulan kurungan. Serta membayar Uang Pengganti Rp 4.475.050.000 subsidair 3 tahun dan 8 bulan penjara.

Fredian dinilai bersalah mengambil uang dalam proses perhitungan kas (cash count) yang ada di ATM. Dia memanipulasi data cash count pengisian ATM dengan memasukkan data fiktif antara nominal uang yang diketik dalam sistem dengan nominal uang yang dimasukan dalam cassette ATM.

Dari sebagian uang yang diambil Fredian, diketahui digunakan untuk judi bola online dengan memasang taruhan jumlahnya tidak tentu. Apabila menang maka dia akan mengembalikan uang dari modal kas besar yang telah diinputnya, agar antara uang yang diambil dan dikembalikan sama.

Namun apabila kalah berjudi maka ia akan mengambil uang modal cash count pengisian ATM untuk menutup uang modal teller. Saat melakukan pengisian ATM (cash count), tidak ada uang yang dimasukkan, namun hanya laporan saja.

(far)