Kendal – INFOPlus. Umumnya merebus atau mengukus makanan itu menggunakan panci atau dandang. Namun tidak bagi pedagang tiwul ayu di Taman Kota Weleri, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah ini.
Berbeda dengan lainnya, tiwul ayu ini justru dikukus dengan wadah yang unik dan tidak biasa. Dengan menggunakan teko air, pedagang tiwul ayu ini justru menjadi viral dan ramai dikunjungi pembeli yang penasaran dengan proses pembuatan yang menggunakan teko air.
Berjajar teko air yang digunakan untuk merebus atau mengukus. Bukan merebus air seperti biasanya teko digunakan, namun teko-teko ini justru menjadi tempat mengukus. Cara ini menjadi unik dan tidak biasanya, sehingga wajar saja lapak di Taman Kota Weleri ini, selalu ramai pembeli yang ingin menikmati makanan tradisional ini.
Pemilik warung tiwul ayu, Rica Kartika Dewi mengaku tidak sengaja menggunakan teko, sebagai tempat untuk mengukus atau merebus tepung galpek singkong. Menurutnya, awalnya tidak berfikir ini akan unik, karena waktu itu yang dilakukan hanya mencari wadah untuk mengukus yang pas.
“Sebenarnya kita tidak memikirkan harus pakai teko gitu, kita ngepasin tempatnya untuk ngukus, soalnya setahu saya kalau panci tidak ada yang pas ya,” ujar Rica di sela-sela berjualan.
Tiwul ayu ini juga ada enam varian rasa dan harganya cukup terjangkau mulai dari 10.000 sampai 15.000 ribu rupiah.
“Ada 6 rasa original gula jawa, keju, coklat, redvolvet, taro sama gren tea. Kalau harganya mulai dari 10.000 sampai 15.000 ribu saja,” katanya.
Di zaman modern ini, makanan tiwul ayu jarang dijumpai. Karenanya Rica mencoba mengenalkan makanan jadul tersebut ke anak-anak milenial.
“Saya mencoba kembali ke zaman dulu yang hampir terlupakan kita angkat menjadi naik kelas dan kita kenalkan lagi,” jelasnya.
Dalam sehari bisa menghabiskan bahan baku tiwul yakni tepung gaplek, yang diambil dari wilayah Gunungkidul, Yogyakarta ini dalam sehari mencapai 20 kilogram. Jika dibuat tiwul ayu matang siap saji, bisa menjadi 250 porsi.
Sementara bagi penikmat makanan tradisional ini, tiwul ayu sangat susah didapatkan. Pembeli biasanya menyukai rasa tiwul yang gurih, namun mengenyangkan.
“Per hari kami bisa menghabiskan 20 kg tepung gaplek, kalau porsinya gitu kita dari 200 sampai 250,” terangnya.
Sementara salah satu pembeli Linawati mengaku, Sudah 2 kali mencicipi makanan tiwul ayu ini.
“Sudah dua kali, rasanya enak emang sudah sering makan tiwul, ini sama aja di dang namanya, pakai teko lebih mudahnya mungkin,” pungkasnya.
Tiwul Ayu yang dibuat tidak hanya rasa original atau ditambah dengan gula jawa, namun ada menu tiwul ayu yang menggunakan toping keju, biskuit coklat dan red velvet.












