SEMARANG – Sebagian tanah di Kota Semarang, Jawa Tengah mengalami penurunan atau ambles hingga mencapai 10 cm, tiap tahunnya.
Bila kondisi ini terus dibiarkan, tanpa adanya penanganan serius dari pemerintah maka ibu kota Provinsi Jateng itu dikhawatirkan akan tenggelam.
Koordinator konsorsium Ground Up untuk Indonesia, Amalinda Savirani, menyatakan penyebab terjadinya amblesan tanah ini antara lain karena ekstraksi air tanah.
“Dari sekitar 0,4 juta meter kubik per tahun pada tahun 1900, menjadi sekitar 38 juta meter kubik per tahun di tahun 2000-an,” ujarnya, Sabtu (1/2).
Ketua Jurusan Politik dan Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini menambahkan, akibat ekstraksi air tanah ini, lanjutnya, terjadi amblesan tanah di daerah Semarang Utara dan Semarang Timur, seperti Pelabuhan Tanjung Emas, Tambaklorok, Tanah Mas, dan Marina.
Warga di daerah Tambaklorok bahkan harus menaikkan lantai rumahnya, sampai ada yang setiap lima tahun sekali. “Amblesan tanah dengan kecepatan 10 cm per tahun,” terangnya.
Selain mengakibatkan amblesnya tanah, lanjutnya, ekstrasi air tanah ini memicu terjadinya krisis air, misalnya air minum. “Permasalahan air di Kota Semarang sudah sangat kritis,” katanya.
Oleh karenanya, konsorsium Ground Up terdiri dari University of Amsterdam dan IHE-Delft Institute for Water Education Belanda, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Unika Soegijapranata, Semarang, LSM Amarta Institute for Water Literacy, dan Koalisi Rakyat untuk Hak atas Air (Kruha) mencoba melakukan penelitian lebih mendalam.
“Tujuan dari penelitian mengidentifikasi, mengetes, dan mengevaluasi kemungkinan praktis perpaduan aliran air tanah dan aliran air permukaan lebih berkeadilan dan lestari,” ujar Nila Ardhianie dari LSM Amarta Institute.(mht)















