Cerbung GM Riyadi Senandung Stasiun Cinta (Bag 2): SENANDUNG SURAT CINTA

oleh

Cerbung GM Riyadi Senandung Stasiun Cinta (Bag 2):

SENANDUNG SURAT CINTA

Beberapa bulan setelah Rafiq kembali, stasiun Gambir semakin ramai setiap sore. Tidak hanya karena senandung yang dinyanyikan Maya dan didukung oleh Rafiq yang kini menjadi pemimpin harmoni, tetapi juga karena tempat itu telah menjadi rumah bagi sebuah komunitas musik muda yang ingin menyebarkan cinta melalui lagu.

Rafiq mungkin tidak bisa lagi menyentuh senar gitar dengan lancar, tapi dia menemukan cara baru untuk berkontribusi. Dia mengajar komposisi dan mengatur harmoni untuk anggota komunitas yang datang dari berbagai penjuru Jakarta. Setiap hari, sebelum pertunjukan sore dimulai, mereka berkumpul di sudut stasiun yang sama tempatnya dulu bermain untuk Maya.

INFO lain :  Kenali Tentang Self Harm Serta Cara Mengatasinya

“Sekarang bukan hanya tentang kita berdua,” ujar Rafiq sambil melihat sekeliling anggota komunitas yang sedang bersiap. “Setiap orang yang datang ke sini membawa cerita mereka sendiri. Dan kita bisa menyatukannya dalam satu melodi.”

Suatu hari, seorang gadis kecil bernama Lintang datang ke stasiun dengan membawa biola yang tampak tua. Dia berdiri jauh-jauhan, menatap Maya dan Rafiq dengan mata penuh harap. Ketika pertunjukan selesai, dia mendekat dengan hati-hati.

“Pak, bu, bolehkah aku bermain bersama kalian?” ucapnya dengan suara pelan. “Ayahku dulu suka menyanyi denganku di stasiun ini sebelum dia pergi bekerja ke luar negeri. Aku selalu membawa biola ini untuk merindukannya.”

INFO lain :  Berapa sih Bayaran "Kakek Sugiono" Tiap "Ngehot"?

Rafiq tersenyum dan mengajaknya duduk bersama. Lintang kemudian memainkan melodi yang indah, penuh dengan rasa rindu yang mendalam. Mendengarnya, Maya ingat akan hari-hari dia menunggu Rafiq, dan Rafiq mengingat bagaimana musik telah menjadi jembatan untuk menghubungkannya dengan orang-orang tersayang.

Dari situlah, ide baru lahir. Mereka memulai program bernama “Senandung Surat Cinta”, di mana setiap minggu mereka mengundang masyarakat untuk berbagi cerita atau surat yang belum terkirim, kemudian mengubahnya menjadi lagu yang akan dinyanyikan di stasiun.

Salah satu cerita yang paling menyentuh datang dari seorang kakek yang selalu duduk di bangku dekat pintu masuk. Setelah bertahun-tahun diam, akhirnya dia berani berbagi surat yang ditulisnya untuk istri yang telah meninggal tiga puluh tahun lalu. Surat itu berisi janji untuk selalu mencintainya dan cerita tentang bagaimana mereka pertama kali bertemu di stasiun ini.

INFO lain :  Gerakan Senam Otak yang Bisa Dilakukan di Rumah

 

Rafiq mengubah kata-kata surat itu menjadi lagu yang sangat emosional. Ketika Maya menyanyikannya bersama Lintang yang bermain biola, banyak penumpang yang menangis terharu. Bahkan petugas stasiun yang sudah bekerja sana selama puluhan tahun juga ikut merasakan kehangatan lagunya.