Semarang – INFOPlus. Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang tahun 2025 di kawasan Bundaran Tugu Muda, Selasa (14/10) malam berlangsung khidmat dan penuh makna. Peringatan ini melibatkan ratusan generasi muda.
Dalam peringatan tersebut, ribuan warga Semarang padati kawasan Tugu Muda. Berbagai penampilan yang menggambarkan semangat perjuangan rakyat Semarang melawan pasukan Jepang, mulai 15-19 Oktober 1945, disuguhkan secara apik.
Peringatan dimulai dengan pembacaan cukilan sejarah perjuangan pemuda oleh budayawan Sukirno. Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, bertindak sebagai inspektur upacara.
Suasana menjadi hening ketika seluruh lampu di kawasan Tugu Muda dipadamkan, disertai raungan sirine untuk mengenang detik-detik pertempuran pada 80 tahun lalu yang menelan ribuan korban jiwa, termasuk dr Kariadi.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengajak generasi muda untuk memaknai Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang (PPLHS) bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi sebagai refleksi atas beratnya perjuangan merebut dan mengisi kemerdekaan.
Ia menegaskan bahwa peringatan tersebut akan menjadi agenda tahunan Pemkot Semarang untuk memperkuat nilai patriotisme di kalangan masyarakat, khususnya anak muda.
“Pertempuran Lima Hari di Semarang ini akan menjadi ritual tahunan yang mengingatkan betapa proses untuk memaknai, mengambil, dan kemudian mengisi kemerdekaan ini sangat berat. Maka kita sebagai generasi penerus harus lebih serius dalam membangun Kota Semarang,” ujarnya.
Agustina juga menekankan pentingnya pelibatan generasi muda dalam kegiatan sejarah agar mereka memahami makna pengorbanan para pejuang.
“Kita harus lebih serius. Anak-anak muda harus mengerti dan menghayati pertempuran ini. Setiap tahun akan kita buat lebih besar agar yang belajar sejarah juga semakin banyak,” tambahnya.
Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Heroe Soekendar mengungkapkan Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang tahun ini dikemas lebih atraktif atas arahan langsung Wali Kota. Kegiatan ini melibatkan lebih dari 1.900 peserta dari unsur TNI, Polri, pelajar, Pramuka, dan komunitas seni.
“Kami ingin semangat heroik itu terasa dan bisa dinikmati masyarakat luas,” imbuhnya. []
















