Karena hanya difungsikan sebagai cadangan, dirinya juga menyebut tidak ada penjaga yang standby di Reservoir Siranda selama 1×24 jam. Meski demikian, setiap hari petugas penjaga saluran hanya mengecek rutin secara fisik dari luar. Untuk pengecekan mendalam bersama teknisi hanya dilakukan pada saat Reservoir Siranda akan digunakan sebagai back up ke pelanggan.
“Pengecekan terakhir dilakukan pada tanggal 5 Juli 2025 pada saat akan digunakan sebagai cadangan ketika ada perbaikan. Jadi selama tanggal 29 atau 30 Juli sejak korban dilaporkan hilang hingga ditemukan tewas pada tanggal 16 Agustus 2025, Reservoir Siranda tidak digunakan,” tegasnya.
Atas kejadian penemuan mayat tersebut, Reservoir Siranda telah dikuras dan dibersihkan dengan disinfektan. Air yang tercemar mayat juga dibuang melalui pipa saluran pembuangan yang terpisah dengan pipa saluran pengairan.
Di akhir keterangan Kabid Humas Kombes Pol Artanto menghimbau kepada masyarakat agar tidak khawatir lagi karena air di Reservoir Siranda sudah dua bulan lebih tidak digunakan untuk mengaliri jaringan PDAM. Dirinya juga memohon doa dari masyarakat agar kasus tersebut dapat segera terungkap.
“Dengan keterangan ini kami harap dapat meluruskan informasi yang beredar di masyarakat bahwa tidak benar jika air PDAM yang tercemar mayat dialirkan ke pelanggan. Dengan demikian kami harap masyarakat terutama pelanggan PDAM tidak perlu khawatir akan kualitas air yang digunakan. Kami mohon doa dan kerjasama dari masyarakat agar kasus ini dapat segera terungkap,” tandasnya. (nh/Ts).















