Dari perspektif psikologis, perilaku seperti ini dapat dijelaskan melalui beberapa teori. Pertama, teori kebutuhan akan kekuasaan (need for power) yang dikemukakan oleh David McClelland (1961) menyatakan bahwa individu dengan kebutuhan akan kekuasaan yang tinggi cenderung untuk mencari kontrol dan dominasi atas orang lain. Dalam konteks politik, kebutuhan akan k…
Namun, saya bisa memberikan contoh umum tentang perilaku yang mungkin dianggap sebagai “ke kanak-kanakan” dalam konteks politik, seperti, Serangan pribadi, yang fokus pada menyerang lawan politik secara pribadi daripada membahas isu-isu penting.
Kemudian Perilaku impulsive, Perilaku impulsive ini membuat keputusan atau pernyataan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Selanjutnya, kurangnya kematangan dalam mengelola konflik, dalam hal menghadapi konflik dengan cara yang tidak konstruktif atau tidak dewasa…
Dampak terhadap Masyarakat
Dampak dari perilaku politikus yang “ke kanak-kanakan” dapat memiliki konsekuensi yang signifikan terhadap masyarakat, institusi politik, dan proses demokrasi. Beberapa dampak yang mungkin terjadi seperti, mengurangi kepercayaan public, perilaku politikus yang tidak dewasa dapat mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap institusi politik dan proses demokrasi.
Memecah belah Masyarakat, dalam situasi seperti ini dampak yang muncul Adalah fokus pada serangan pribadi dan perilaku impulsif dapat memecah belah masyarakat dan meningkatkan polarisasi.
Selain itu, juga mengalihkan fokus dari isu penting, karena perilaku “ke kanak-kanakan” dapat mengalihkan fokus dari isu-isu penting yang mempengaruhi masyarakat.
Dampak terhadap Proses Demokrasi
Selain dampak terhadap Masyarakat, tentu saja terdapat juga dampak terhadap perkembangan proses demokrasi. Seperti, menghambat dialog konstruktif, sehingga perilaku politikus yang tidak dewasa dapat menghambat dialog konstruktif dan kompromi dalam proses demokrasi. Selanjutnya, meningkatkan polarisasi politik, sehingga bila fokus pada serangan pribadi dan perilaku impulsif dapat meningkatkan polarisasi politik dan mengurangi kemungkinan kerja sama. Dan juga, mengurangi kualitas pengambilan keputusan, Perilaku “ke kanak-kanakan” dapat mengurangi kualitas pengambilan keputusan dalam proses demokrasi.
Dengan demikian, perilaku politikus yang “ke kanak-kanakan” dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap masyarakat, institusi politik, dan proses demokrasi. (*)
- Ricka Comara Dewi, S.Psi.,M.Psi.,Psikolog
Adalah Psikolog, Pengamat Kepolisian dan Politikus Partai Gerindra.
- Tugimin Supriyadi, S.Psi.,MM.,Psikolog
Adalah Psikolog, Pengamat Kepolisian dan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Bhayangkara Jaya.
















