Politikus ke kanak-kanakan, Sebuah Tinjauan Psikologis
Oleh : Ricka Comara Dewi & Tugimin Supriyadi
Menarik mencermati perkambangan perilaku politikus-politikus di negeri tercinta ini. Ada politikus hebat yang benar-benar memahami dan melaksanakan aktivitas sebagai politikus, tetapi banyak juga politikus yang sekedar numpang seolah-olah menjadi politikus, dibalik motivasi tertentu yang tersembunyi. Tidak sedikit juga hadir polikus-polikus dadakan, yang tiba-tiba menjadi anggota partai tertentu di saat mendekati pencalonan anggota DPR, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten atau DPRD Kota. Yang menarik, masih juga banyak politikus yang ke kanak-kanakkan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kita sering menyaksikan perilaku politikus yang tampak seperti “ke kanak-kanakan”. Mereka lebih fokus pada menyerang lawan politik dari pada membahas isu-isu penting yang mempengaruhi masyarakat. Politikus ke kanak kanakkan juga lebih banyak menyerang pribadi individu, dengan mengumbar kekurangan dan kelemahan lawan politiknya, dan kurang menonjolkan visi dan misinya. Perilaku ini tidak hanya memecah belah masyarakat, tetapi juga mengurangi kepercayaan publik terhadap institusi politik.
Dari perspektif psikologis, perilaku seperti ini dapat dijelaskan melalui beberapa teori. Pertama, teori kebutuhan akan kekuasaan (need for power) yang dikemukakan oleh David McClelland (1961) menyatakan bahwa individu dengan kebutuhan akan kekuasaan yang tinggi cenderung untuk mencari kontrol dan dominasi atas orang lain. Dalam konteks politik, kebutuhan akan kekuasaan ini dapat memanifestasikan diri dalam bentuk perilaku agresif terhadap lawan politik.
Kedua, teori psikologi perkembangan yang dikemukakan oleh Erik Erikson (1963) menunjukkan bahwa individu dalam tahap perkembangan tertentu mungkin menunjukkan perilaku yang lebih impulsif dan kurang terkontrol. Dalam konteks politikus, perilaku “ke kanak-kanakan” dapat mencerminkan kurangnya kematangan emosional atau kesulitan dalam mengelola stres dan tekanan politik.
Perilaku politikus yang “ke kanak-kanakan” tidak hanya merugikan bagi masyarakat, tetapi juga bagi institusi politik itu sendiri. Untuk meningkatkan kepercayaan publik dan mencapai tujuan politik yang lebih konstruktif, politikus perlu menunjukkan kematangan dan tanggung jawab dalam perilaku mereka. Ini memerlukan kesadaran akan dampak perilaku mereka terhadap masyarakat dan kemampuan untuk mengelola emosi dan stres dalam konteks politik.
Dalam beberapa tahun terakhir, kita sering menyaksikan perilaku politikus yang tampak seperti “ke kanak-kanakan”. Mereka lebih fokus pada menyerang lawan politik daripada membahas isu-isu penting yang mempengaruhi masyarakat. Perilaku ini tidak hanya memecah belah masyarakat, tetapi juga mengurangi kepercayaan publik terhadap institusi politik.
















