“Namun pelaksanaannya harus didahului dengan perencanaan yang baik agar realisasinya terarah secara spesifik,” tegas Ronny.
“Maka di sini, yang dituntut untuk akuntabel atau transparan adalah pihak kelurahan, agar masyarakat di tingkat RT paham terkait bagaimana realisasi dana RT ini,” tambahnya.
Terkait transparansi, Ronny membandingkan paslon 01 dan 02. Menurut Ronny, Paslon 01 itu program transparansinya lebih teknis serta lebih implementatif.
“Peningkatan status dari zona integeritas, WBK, sampai WBBM ini ditawarkan oleh Paslon 01,” ujar dia.
Membuat zona integeritas sebenarnya mudah dicapai sehingga seharusnya kedua Paslon bisa melakukan itu.
“Hanya paslon 02 hanya membatasi di zona-zona tertentu, tidak di semua zona. Seharusnya semua zona ditargetkan menjadi zona integeritas dan naik levelnya menjadi WBK atau WBBM,” ungkapnya.
Paslon 01 sekali lagi lebih implementatif, menurut catatan Ronny, ada 10 program perbaikan tata Kelola. Sementara paslon 02 ada 7 tawaran program.
“Paslon 01 memang saling melengkapi antara legislator dan birokrat. Lalu paslon 02 keduanya adalah legislator sehingga mungkin dirasa kurang variatif,” sambung dia.
Meski begitu, Ronny berharap kedua Paslon, siapapun yang nanti menang, bisa mengimplementasikan visi dan misinya untuk membentuk pemerintahan yang bersih dan berintegritas.
“Saya berharap kepada keduanya bisa merealisasikan visi dan misinya untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan Kota Semarang,” imbuh dia. []
















