Salatiga – INFOPlus. Pemkot Salatiga luncurkan Pediatrician Social Responsibility (PSR), sekaligus kampanye Perubahan Perilaku di Rumah Pemulihan Gizi. Program tersebut bentuk komitmen pemerintah untuk menekan stunting.
Kick off Pediatrician Social Responsibility untuk mencegah stunting dilakukan Pj Wali Kota Salatiga, Yasip Khasani, bersama Pj Ketua TP PKK Salatiga, Anita Yasip, di Ruang Mini Teater Gedung DPRD Kota Salatiga, Selasa (27/8).
Hadir dalam kegiatan ini, Kepala Dinas Kesehatan Kota Salatiga, pimpinan rumah sakit se-Kota Salatiga, Kepala Balkesmas Ambarawa, Kepala Puskesmas se-Kota Salatiga, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Jawa Tengah, dan dokter spesialis anak se-Kota Salatiga.
“Program PSR yang merupakan wujud nyata dari komitmen kita semua, terutama para dokter anak dalam memberikan yang terbaik bagi peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Kota Salatiga terutama anak-anak,” ungkap Yasip.
Melalui program ini, diharapkan pula dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan anak, meningkatkan kualitas gizi anak, serta mencegah stunting.
Yasip mengutarakan data kasus stunting di Kota Salatika. Menurutnya, prosentase kasus stunting di Kota Salatiga cenderung mengalami penurunan dari waktu ke waktu.
Tercatat, pada tahun 2022, kasus stunting sebesar 6,21% atau 561 kasus. Kemudian di tahun 2023 sebesar 5,92% atau 484 kasus. Dan sampai dengan bulan Juli 2024, kasus stuntingĀ sebesar 5,69% atau 531 kasus.
MeskiĀ secara prosentas turun, lanjut dia, namun dari data tersebut ternyata mengalami kenaikan dari sisi jumlah. Karena itu, perlu ada penanganan lebih konkret yang bisa menyentuh akar persoalan.
Lewat kegiatan yang ada di PSR ini, Pemkot Salatiga bersama stakeholder terkait dapat meningkatkan kemampuan klinis tenaga medis di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang muaranya diharapkan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Bahwa melalui optimalisasi kegiatan Pediatrician Social Responsibility, akan ada pendampingan oleh dokter spesialis anak ke puskesmas. Sehingga kasus stunting bisa tertangani secara tepat.
“Untuk itu program penanganan stunting harus terus menjadi prioritas dalam pelayanan kesehatan di Kota Salatiga,” imbuhnya. (AK)















