Mbak Ita Dorong Pengembangan Sistem Pertanian Terpadu di Semarang

oleh
pertanian semarang
Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu memimpin panen pepaya hawai dan california hasil penerapan sistem pertanian terpadu di kebun pepaya Kelompok Tani Muda Mandiri Kandri, Kecamatan Gunungpati, Selasa (11/6). (Foto: Dok)

SemarangINFOPlus. Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengajak para petani di wilayahnya mengimplementasikan sistem integrasi pertanian terpadu. Sistem pertanian di Kelompok Tani Muda Mandiri Kandri Gunungpati bisa menjadi percontohan.

Mbak Ita, sapaan Wali Kota Semarang, mengaku kagum dengan sistem pertanian terpadu yang diterapkan Kelompok Tani Muda Mandiri Kandri, Gunungpati. Kelompok tani tersebut mandiri memenuhi kebutuhan dalam pemenuhan pupuk.

“Di sini semuanya terintegrasi dalam pertanian terpadu. Ada peternakan sapi dan kambing yang kotoran dan kencingnya dimanfaatkan untuk pupuk pertanian,” kata dia seusai panen pepaya hawai dan california di kebun pepaya Kelompok Tani Muda Mandiri Kandri, Gunungpati, Selasa (11/6).

Di lahan seluas 3 hektare, Kelompok Tani Muda Mandiri berhasil menanam dan membudi dayakan tiga jenis pepaya, yakni pepaya Hawai, pepaya California, dan pepaya Thailand.

Berbeda dengan kelompok tani lain, sistem pertanian di tempat tersebut sangat terintegrasi dan terpadu. Pupuk yang digunakan, termasuk pestisidanya, berasal dari bahan-bahan organik, seperti kotoran ternak dan sampah rumput sisa pakan ternak.

Tak hanya itu, pepaya yang ditanam juga menggunakan konsep tumpang sari dengan sayur-sayuran. Bedanya, model tumpang sari di sini menggunakan pembatas plastik agar tanaman dan pepaya tidak berebut nutrisi.

Dalam distribusi hasil panen, para petani juga sudah memiliki pasar tersendiri. Mereka memiliki offtaker atau pemasok kebutuhan serta suplier besar untuk memasarkan pepaya hasil panen.

“Yang luar biasa lagi, penghasilan petani untuk lahan 1 hektare yang ditanami pepaya dan jenis tanaman lain, mencapai Rp 450 juta selama tiga tahun usia pohon pepaya. Apalagi offtaker-nya sudah jelas,” papar dia.

Sementara itu, anggota Kelompok Tani Muda Mandiri Kandri, Gunungpati, Mujiono mengatakan, lahan yang dikelola kelompoknya mencapai 3 hektare.

“Ada tiga jenis pepaya yang ditanam, yaitu pepaya hawai, california, dan thailand. Yang membedakan kita full organik sampai pestisida, kita mandiri buat sendiri semua,” beber dia.

Mujiono mengaku sudah memiliki suplier tersendiri, bahkan harga pepaya miliknya ada di atas harga rata-rata di pasaran. Perkebunan konsep organik tersebut menjadi nilai tambah dalam pemasaran hasil panen pepaya itu.

Ditambahkan, kelebihan pepaya organik buahnya lebih manis dan lebih tahan lama, terlebih untuk kesehatan pastinya juga lebih bagus.

“Dengan Bu Wali ke sini harapan melihat langsung dan bisa dicontohkan kepada petani-petani lain,” pungkas dia. []