Semarang – INFOPlus. Upaya mengentaskan kawasan kumuh terus dilakukan oleh Pemkot Semarang. Beberapa program dilaksanakan, untuk mengurangi areal kawasan kumuh di Ibu Kota Jawa Tengah ini.
Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu menuturkan penanganan kawasan kumuh di antaranya dengan pembangunan infrastruktur, pembenahan saluran air dan sanitasi lingkungan, serta program lainnya terkait edukasi ke masyarakat.
Mbak Ita, sapaannya, menyebut upaya itu mulai menunjukkan hasil. Tercatat, sekitar 200 hektare kawasan kumuh di Kota Semarang hilang pada 2023. Dan akan berkurang lagi di tahun ini.
“Kami bisa menghapus atau menangani sekitar 200 hektare kawasan kumuh Kota Semarang pada tahun 2023. Kini tinggal 178,11 hektare,” katanya, Kamis (25/1).
Dikatakan, Pemkot Semarang selalu memperhatikan kawasan-kawasan permukiman yang masih masuk kategori kumuh. Dia menyebut, perhatiannya sering kali dianggap berlebihan. Kendati begitu, jurus yang dicap cerewet tersebut ternyata ampuh menurunkan jumlah areal kumuh.
“Tetapi harus dengan cerewet, mungkin dibilang wali kotanya galak, judes, tetapi yang penting kawasan kumuhnya hilang,” kata perempuan pertama yang menjadi Wali Kota Semarang tersebut.
Sejalan dengan penghapusan kawasan kumuh, Mbak Ita menyatakan terus melakukan peningkatan sanitasi lingkungan. Upaya tersebut dilakukan melalui program kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) yang sedang digodok di Kementerian Keuangan.
“Kemarin kami terhambat karena beberapa kendala, tetapi sekarang sudah dilakukan proses itu di Kementerian Keuangan. Pada 2024 KPBU ini akan dimulai prosesnya,” katanya.
Mbak Ita menambahkan, upaya penghapusan kawasan kumuh menjadi salah satu visi pembangunan Kota Semarang pada 2025 hingga 2045 ke depan. Adapun visi pembangunan yaitu, Semarang Kota Metropolitan yang Layak Huni, Maju, dan Berkelanjutan.
“Sebagai kota metropolitan, Semarang akan menjadi simpul pelayanan dalam konstelasi regional maupun nasional,” kata dia.
Menurutnya, kota yang nyaman sebagai tempat tinggal dan tempat untuk beraktivitas, dilihat dari aspek fisik, misalnya fasilitas perkotaan, prasarana, tata ruang. Termasuk aspek nonfisik, seperti hubungan sosial, aktivitas ekonomi.
Pada sisi maju, perekonomian berdaya saing tinggi harus berbasis riset, modern dalam tingkat peradaban tinggi tentang penguasaan teknologi, serta inovatif dalam implementasinya.
Begitu pula berkelanjutan yang bertumpu pada proses pembangunan yang tetap menjaga kelestarian sumber daya alam dan kualitas lingkungan hidup. Pembangunan yang mempertimbangkan tiga aspek utama, yaitu lingkungan, ekonomi, dan sosial yang layak bagi kehidupan.















